
Terakhir Diperbarui 6 Mei 2026 | Waktu baca 11 menit
Ketika musim dingin tiba di belahan bumi utara, lanskap pegunungan berubah menjadi hamparan putih es dan salju yang membeku. Bagi sebagian besar hewan liar, ini adalah masa-masa ujian terberat untuk bertahan hidup, mencari makanan, dan menahan suhu yang mematikan. Namun, di sebuah lembah terpencil di Prefektur Nagano, Jepang, sekelompok primata telah menemukan cara yang sangat cerdas, unik, dan menyerupai budaya manusia untuk menghadapi musim dingin yang keras: mereka berendam di kolam air panas alami (onsen).
Tempat luar biasa ini dikenal dengan nama Jigokudani Monkey Park (Taman Monyet Jigokudani). Pemandangan kera-kera liar berwajah merah yang sedang memejamkan mata dengan santai di dalam kolam beruap tebal, sementara salju turun dengan lebat di sekitar mereka, telah menjadi salah satu ikon pariwisata alam paling terkenal di Jepang. Namun, di balik kelucuan dan daya tarik visual yang sangat instagramable tersebut, terdapat sejarah yang menarik, struktur sosial kera yang kompleks, serta penjelasan ilmiah mengenai evolusi perilaku. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami dunia Macaque Jepang di Lembah Neraka.
Lembah Neraka yang Menjadi Surga Primata
Nama "Jigokudani" secara harfiah diterjemahkan menjadi "Lembah Neraka". Nama yang terdengar menyeramkan ini diberikan oleh penduduk setempat pada masa lalu karena kondisi geografisnya yang sangat ekstrem. Terletak di lembah Sungai Yokoyu, kawasan ini dikelilingi oleh tebing-tebing curam dan hutan pinus yang lebat. Aktivitas panas bumi di bawah permukaan tanah menyebabkan uap panas terus-menerus menyembur keluar dari celah-celah bebatuan, menciptakan kabut tebal yang berbau belerang. Pada musim dingin, salju bisa menumpuk sangat tebal dan suhu udara sering kali anjlok hingga minus 15 derajat Celcius.
Di lembah yang ekstrem inilah berdiam kawanan Kera Jepang atau Japanese Macaque (Macaca fuscata). Kera jenis ini sangat istimewa karena mereka adalah spesies primata non-manusia yang hidup di habitat paling utara di dunia. Oleh karena kemampuannya bertahan di iklim subarktik yang membeku ini, mereka mendapat julukan Snow Monkeys (Monyet Salju). Mereka dibekali dengan bulu dua lapis yang sangat tebal untuk menjaga suhu inti tubuh mereka dari hawa dingin yang menusuk tulang.
Sejarah Berendam: Dimulai dari Sebuah Ketidaksengajaan
Banyak orang yang mengira bahwa kebiasaan kera-kera ini berendam di air panas adalah naluri yang diwariskan secara evolusioner selama ribuan tahun. Faktanya, perilaku ini adalah adaptasi budaya modern yang relatif baru dan berawal dari sebuah interaksi tak sengaja dengan manusia.
Kisah ini bermula pada awal tahun 1960-an. Pada saat itu, populasi kera di wilayah pegunungan Nagano terancam karena ekspansi lahan pertanian dan penebangan hutan. Kehilangan habitat dan sumber makanan alami memaksa kera-kera ini turun ke desa-desa di lembah untuk memakan apel dan hasil kebun petani. Akibatnya, mereka dianggap sebagai hama dan sering diburu.
Seorang pencinta alam dan penduduk lokal merasa kasihan dan mulai memberikan apel di sekitar area lembah Jigokudani secara teratur untuk mengalihkan kera-kera tersebut dari lahan pertanian. Perlahan-lahan, kawanan kera mulai menetap di area lembah.
Pada tahun 1963, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Korakukan, sebuah penginapan tradisional Jepang (ryokan) yang berlokasi di dekat lembah tersebut. Penginapan ini memiliki kolam air panas luar ruangan (rotenburo) untuk para tamu manusia. Suatu hari di musim dingin, seekor kera muda—yang diyakini didorong oleh rasa ingin tahu dan keinginan untuk menghangatkan diri karena melihat manusia berendam—mencoba masuk ke dalam kolam tersebut. Sensasi hangat dan nyaman itu ternyata sangat disukainya.
Kabar ini menyebar dengan cepat di dalam kawanan. Kera-kera lain, terutama kera muda dan betina, mulai meniru perilaku tersebut. Tak lama kemudian, kolam tamu manusia itu dipenuhi oleh kera. Karena kera yang berendam bersama manusia menimbulkan masalah kebersihan dan keamanan, para pengelola dan pelestari alam akhirnya memutuskan untuk membangun sebuah kolam air panas khusus untuk kera tersebut beberapa meter lebih jauh ke dalam lembah. Sejak saat itulah, pada tahun 1964, Jigokudani Monkey Park resmi dibuka untuk publik.
Sains di Balik Onsen: Mengapa Mereka Berendam?
Secara sekilas, jawabannya tampak jelas: mereka berendam untuk menghangatkan tubuh di tengah badai salju. Namun, para ilmuwan dari Universitas Kyoto, Jepang, tidak puas dengan jawaban sederhana tersebut. Mereka melakukan penelitian komprehensif pada tahun 2018 untuk mencari tahu dampak fisiologis sesungguhnya dari aktivitas berendam ini.
Penelitian tersebut dilakukan dengan menganalisis sampel feses (kotoran) kera betina dewasa selama musim dingin. Para peneliti secara khusus mencari keberadaan hormon glukokortikoid, yaitu jenis hormon yang diproduksi tubuh hewan saat mereka mengalami stres fisik yang ekstrem (seperti kedinginan parah atau kelaparan).
Hasilnya sangat menakjubkan. Kera betina yang lebih sering menghabiskan waktunya untuk berendam di air panas memiliki tingkat hormon stres yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang jarang berendam. Ini membuktikan bahwa berendam bukan sekadar perilaku meniru untuk kesenangan sementara, melainkan sebuah metode termoregulasi yang efektif untuk menurunkan stres fisiologis, menghemat energi yang berharga di musim dingin, dan meningkatkan peluang bertahan hidup serta fungsi reproduksi kera betina. Singkatnya, kera-kera ini menggunakan onsen sebagai fasilitas spa kesehatan alam.
Hierarki Sosial di Dalam Kolam: Siapa yang Boleh Masuk?
Satu hal yang jarang disadari oleh para turis yang asyik memotret adalah adanya drama sosial dan politik yang kental sedang terjadi di dalam kolam air panas tersebut. Kawanan Macaque Jepang memiliki struktur sosial matrilineal (berdasarkan garis keturunan ibu) yang sangat ketat dan hierarkis.
Hak istimewa untuk berendam di kolam air panas yang jumlahnya terbatas itu tidak diberikan kepada semua anggota kelompok. Kolam tersebut dimonopoli oleh para jantan Alpha (pemimpin kelompok) dan kera betina berpangkat tinggi beserta anak-anak mereka. Anak-anak yang lahir dari betina kelas atas mewarisi status ibu mereka dan sejak bayi sudah diperbolehkan menikmati kehangatan air panas tersebut.
Sebaliknya, kera-kera dari kasta yang lebih rendah (low-ranking monkeys) tidak berani masuk ke dalam kolam. Jika mereka mencoba masuk, mereka akan segera diusir, digigit, atau diintimidasi oleh kera betina senior. Akibatnya, kera-kera berpangkat rendah harus puas duduk menggigil di bebatuan bersalju di pinggir kolam sambil menatap rekan-rekan mereka yang sedang asyik bersantai. Perilaku ini sangat mencerminkan betapa kuatnya dominasi hierarki sosial di dunia hewan.
Etika Wisata dan Pengalaman Berkunjung
Saat ini, Jigokudani Monkey Park menarik ratusan ribu wisatawan lokal dan internasional setiap tahunnya. Tempat ini menawarkan pengalaman melihat satwa liar tanpa sekat yang sangat langka. Tidak ada pagar tinggi atau kandang kaca yang memisahkan manusia dari kera. Hewan-hewan ini berjalan bebas menyelinap di antara kaki para pengunjung dan duduk bersantai di tepi jalan kayu.
Perjalanan menuju taman ini sendiri merupakan sebuah petualangan. Pengunjung harus berjalan kaki menyusuri jalur hutan pinus sepanjang 1,6 kilometer dari area parkir Kanbayashi Onsen. Di musim dingin, jalur ini akan tertutup salju tebal dan cukup licin, sehingga membutuhkan alas kaki yang tepat.
Karena tidak ada pagar pemisah, pihak taman menerapkan aturan yang sangat ketat untuk memastikan keselamatan hewan dan manusia:
- Dilarang Memberi Makan: Wisatawan dilarang keras membawa atau memberikan makanan apa pun kepada kera. Memberi makan akan merusak diet alami mereka dan memicu sifat agresif kera untuk merampas makanan manusia.
- Dilarang Menyentuh: Meskipun mereka terlihat jinak dan menggemaskan, mereka tetaplah hewan liar yang bisa menggigit jika merasa terancam.
- Jangan Menatap Mata Secara Langsung: Dalam bahasa tubuh primata, menatap mata secara langsung dan intens dianggap sebagai tanda permusuhan atau tantangan berkelahi.
Konservasi dan Paradoks Kehidupan Semi-Liar
Keberadaan Jigokudani Monkey Park sering kali memicu diskusi panjang di kalangan konservasionis hewan. Kera-kera di taman ini memiliki status "semi-liar". Setiap hari, penjaga taman akan meniup peluit dan menebarkan biji-bijian (seperti barley atau kedelai mentah) di sekitar kolam untuk memancing kawanan kera turun dari hutan pegunungan.
Praktik pemberian makan (provisioning) ini dilakukan dengan dua alasan utama. Pertama, untuk memastikan kera-kera tetap berada di area taman agar bisa dilihat oleh wisatawan (yang merupakan sumber pendapatan taman). Kedua, dan yang lebih penting, pemberian makan ini memastikan kera tidak perlu lagi turun ke kebun warga di lembah bawah untuk mencuri tanaman, sehingga konflik antara manusia (petani) dan kera dapat ditekan semaksimal mungkin.
Banyak ahli biologi sepakat bahwa meskipun perilaku ini sedikit banyak telah mengubah pola pergerakan alami mereka, model taman seperti Jigokudani adalah solusi terbaik yang saling menguntungkan (win-win solution) untuk menyelamatkan populasi Macaque Jepang dari perburuan akibat konflik lahan pertanian di area Yamanouchi.
Kesimpulan
Jigokudani Monkey Park bukan sekadar kebun binatang tanpa kandang atau destinasi wisata musiman. Ia adalah laboratorium alam terbuka yang memperlihatkan kecerdasan luar biasa makhluk hidup dalam beradaptasi dengan lingkungan yang keras. Kemampuan primata-primata ini mengamati manusia, meniru perilaku berendam, dan kemudian mewariskannya sebagai "budaya" baru kepada anak cucu mereka adalah salah satu contoh evolusi perilaku paling menakjubkan di dunia hewan.
Melihat kera-kera liar saling membersihkan bulu (grooming), merawat bayi-bayi mereka di dalam air yang mengepul, sambil diselimuti salju yang turun dengan lembut, memberikan perasaan damai dan magis. Tempat ini membuktikan bahwa batas antara manusia dan satwa liar mungkin tidak sejauh yang kita bayangkan; pada akhirnya, kita sama-sama menghargai kehangatan dan kedamaian yang diberikan oleh bumi yang kita pijak.
Daftar Referensi / Daftar Pustaka
- Takeshita, R. S., Bercovitch, F. B., Kinoshita, K., & Huffman, M. A. (2018). "Beneficial effect of hot spring bathing on stress levels in Japanese macaques". Primates Journal. (Penelitian utama dari Universitas Kyoto mengenai tingkat hormon glukokortikoid pada monyet salju yang berendam).
- Huffman, M. A., & MacIntosh, A. J. (2013). "Plant-animal interactions and the evolution of self-medication in primates". Evolutionary Biology. (Membahas adaptasi budaya kera Jepang dan penanganan penyakit).
- Knight, J. (2011). "Herding Monkeys to Paradise: How Macaque Troops are Managed for Tourism in Japan". Brill. (Membahas manajemen pariwisata ekologi, konflik dengan petani, dan praktik pemberian makan di Jigokudani).
- Jigokudani Yaen-koen Official Website. "About the Snow Monkeys and Park Rules". (Dokumen resmi mengenai pedoman keselamatan pengunjung dan sejarah awal mula kolam kera).
- Kurita, H., Shimomura, T., & Fujii, T. (2001). "Macaque-human interactions in Jigokudani Monkey Park, Japan". American Journal of Primatology.






