Terakhir Diperbarui: 30 Januari 2026 | Waktu baca: 8 menit
Pernahkah Anda membayangkan sebuah pohon yang batangnya "meledak" dengan ribuan buah berwarna ungu gelap hingga nyaris tak menyisakan ruang bagi kulit kayunya? Jika Anda berkunjung ke wilayah tenggara Brazil, pemandangan ini bukanlah ilusi optik atau hasil rekayasa digital. Penduduk lokal menyebutnya Jabuticaba—sebuah pohon yang menantang pemahaman umum kita tentang bagaimana sebuah pohon seharusnya berbuah.
Bagi mata orang Barat atau kita di Asia Tenggara, pemandangan ini mungkin terasa asing, namun bagi masyarakat Brazil, Jabuticaba adalah simbol kelezatan musim panas dan keajaiban medis yang telah diwariskan turun-temurun.
Apa Itu Jabuticaba? (Plinia cauliflora)
Secara botani, Jabuticaba (Plinia cauliflora) adalah anggota keluarga Myrtaceae, yang berarti ia berkerabat dekat dengan jambu biji dan cengkih. Pohon kecil yang tumbuh lambat ini sering disalahartikan sebagai pohon anggur karena kemiripan bentuk, warna, dan tekstur buahnya.
Satu butir buah Jabuticaba memiliki diameter sekitar 1,5 inci. Di balik kulitnya yang ungu gelap, tebal, dan kaya akan tannin, terdapat daging buah berwarna putih transparan (kadang semburat mawar) yang sangat manis, empuk, dan mengandung sekitar satu hingga empat biji.
Fenomena Cauliflory: Mengapa Berbuah di Batang?
Keunikan visual utama Jabuticaba adalah bunga dan buahnya yang tumbuh langsung di dahan besar dan batang utama, bukan di ranting-ranting muda. Dalam dunia botani, fenomena ini disebut sebagai cauliflory.
Mengapa alam menciptakan mekanisme yang begitu aneh? Pohon ini telah berevolusi selama ratusan tahun untuk memastikan kelangsungan spesiesnya. Dengan menumbuhkan buah di batang yang lebih rendah dan kokoh, Jabuticaba mempermudah hewan-hewan hutan yang tidak bisa terbang atau memanjat ranting kecil—seperti kura-kura darat atau mamalia kecil—untuk meraih buahnya yang lezat. Sebagai imbalannya, hewan-hewan ini akan menyebarkan bijinya ke seluruh lantai hutan melalui kotoran mereka.
Profil Rasa dan Tantangan Fermentasi
Jika Anda mencicipinya langsung dari pohonnya, Anda akan merasakan ledakan rasa manis yang menyegarkan. Namun, Jabuticaba memiliki sifat yang sangat "pemalu" terhadap waktu. Berbeda dengan anggur biasa yang bisa bertahan berminggu-minggu setelah dipetik, buah Jabuticaba mulai terfermentasi hanya dalam waktu 3 hingga 4 hari setelah panen.
Inilah alasan mengapa Anda jarang menemukannya di supermarket internasional dalam bentuk segar. Keterbatasan waktu simpan ini memaksa para petani untuk segera mengolahnya menjadi:
- Minuman keras (liqueur) dan wine yang aromatik.
- Selai dan jeli premium.
- Sirup musim panas yang manis.
Sisi Medis: Dari Obat Tradisional hingga Riset Kanker
Sebagai seseorang dengan latar belakang medis, Vika, Anda pasti akan tertarik dengan profil fitokimia buah ini. Secara tradisional, kulit buah Jabuticaba yang dijemur di bawah matahari telah lama digunakan oleh penduduk lokal sebagai obat astringen.
Beberapa manfaat medis tradisionalnya meliputi:
- Gangguan Pencernaan: Mengobati diare kronis karena kandungan tannin-nya yang tinggi.
- Masalah Pernapasan: Digunakan dalam ramuan untuk meredakan asma dan tonsilitis.
- Anti-inflamasi: Mengurangi peradangan pada tenggorokan dan kulit.
Dalam riset modern, para ilmuwan mulai melirik Jabuticaba karena kandungan antioksidan-nya yang sangat kuat, terutama anthocyanin yang memberi warna ungu pada kulitnya. Senyawa spesifik bernama jaboticabin ditemukan hanya pada pohon ini dan sedang diteliti potensi klinisnya dalam menghambat pertumbuhan sel kanker dan membantu pengobatan penyakit degeneratif.
Budidaya: Tahan Banting Namun Sabar
Jabuticaba adalah pohon yang tangguh. Ia bisa beradaptasi dengan berbagai jenis tanah, meskipun ia sangat menyukai lingkungan dengan pH sedikit asam dan pengairan yang konsisten. Di daerah tropis seperti Brazil, jika pohon ini disiram dengan teliti, ia bisa berbunga dan berbuah sepanjang tahun, bukan hanya sekali atau dua kali.
Namun, menanam Jabuticaba adalah latihan kesabaran. Pohon ini tumbuh sangat lambat. Jika Anda menanamnya dari biji, Anda mungkin harus menunggu 8 hingga 15 tahun sampai pohon tersebut mencapai kematangan dan mulai menghasilkan buah pertamanya. Hal ini menjadikannya tanaman yang sangat berharga dan sering dianggap sebagai warisan keluarga.
Kesimpulan: Simbol Keindahan yang Aneh
Pohon Anggur Brazil ini adalah pengingat bahwa alam selalu punya cara untuk mengejutkan kita. Jabuticaba menunjukkan bahwa keindahan tidak harus mengikuti aturan standar, dan manfaat terbaik seringkali tersembunyi di balik penampilan yang dianggap "aneh".
Bagi kita yang tinggal di Indonesia, karakter iklim tropis kita sebenarnya sangat memungkinkan untuk mencoba menanam pohon luar biasa ini. Meskipun membutuhkan waktu lama untuk tumbuh, hasil panen yang bisa dinikmati langsung dari batangnya akan memberikan kepuasan yang sepadan dengan penantiannya. Sempurna bagi mereka yang menghargai proses dan keajaiban alam.
Daftar Pustaka & Referensi
- Citro-flavonoids and Anthocyanins in Plinia cauliflora. (2025). Journal of Agricultural and Food Chemistry.
- Lorenzi, H. (2002). Brazilian Fruits & Cultivated Exotics. Instituto Plantarum de Estudos da Flora.
- Morton, J. F. (1987). Jaboticabas. In: Fruits of Warm Climates. Miami, FL.
- Silva, M. C., et al. (2024). The medicinal potential of Jabuticaba: A review of its antioxidant and anti-cancer properties. Brazilian Journal of Pharmacognosy.
- World Agroforestry Centre. Plinia cauliflora (Jaboticaba) Database.
No comments:
Post a Comment
Hai, silakan tuliskan apapun terkait isi artikelnya ya. Terima kasih.