Cantik Tapi Membunuh: 5 Jamur Paling Beracun di Dunia yang Bisa Berakibat Fatal Jika Dikonsumsi - Picture of Our World

Nature│Outdoor│Travel│Art and Design│History│Science│Environmental│Technology│Nature | Trivia

Saturday, 14 April 2012

Cantik Tapi Membunuh: 5 Jamur Paling Beracun di Dunia yang Bisa Berakibat Fatal Jika Dikonsumsi

Terakhir Diperbarui 30 Januari 2026 | Waktu baca 11 menit


"Amphon Tuckey, 39 tahun, ditemukan meninggal di rumahnya, di daerah Newport, Isle of Wight, pada September 2008. Penyebab kematian? Amphon telah memakan jamur pembawa maut." — BBC News

Kisah Amphon Tuckey di atas hanyalah satu dari sekian banyak tragedi yang disebabkan oleh ketidaktahuan manusia akan bahaya di balik keindahan jamur liar. Jamur telah menyentuh kehidupan kita dalam berbagai aspek, mulai dari hidangan lezat di meja makan hingga subjek penelitian laboratorium yang kompleks. Namun, di balik teksturnya yang kenyal dan payungnya yang estetik, terdapat garis tipis antara kelezatan dan kematian.

Beberapa orang mungkin hanya mengalami reaksi alergi ringan, namun bagi yang lain, konsumsi spesies tertentu dapat memicu gagal organ sistemik hingga kematian. Fenomena keracunan jamur ini secara medis dikenal sebagai Mycetism. Meskipun jumlah spesies jamur yang memiliki toksisitas konsisten dan teruji tergolong sedikit dibandingkan ribuan spesies lainnya, mengenal mereka adalah langkah vital untuk mencegah tragedi.

Berikut adalah 5 jamur paling mematikan di dunia yang wajib Anda ketahui.


5. Deadly Conocybe (Pholiotina filaris)

Deadly Conocybe adalah nama umum untuk kelompok jamur yang memiliki ciri khas topi berbentuk kerucut dan insang berwarna cokelat yang tampak seperti berkarat. Nama ilmiahnya adalah Pholiotina filaris, dan spesies ini tersebar luas di wilayah timur laut Pasifik Amerika.

Mengapa Berbahaya?

Masalah utama dari jamur ini adalah kemiripannya dengan genus Psilocybe (jamur yang dikenal memiliki efek halusinogen atau "magic mushroom"). Banyak pencari jamur amatir yang keliru mengidentifikasinya. Padahal, P. filaris mengandung mikotoksin yang sangat mematikan. Racun ini dapat menyebabkan kerusakan hati yang tidak dapat diperbaiki jika tidak segera ditangani secara medis.

4. Death Cap (Amanita phalloides)

Jika ada "selebritas" di dunia jamur beracun, maka Death Cap adalah pemegang takhtanya. Jamur ini tampak cantik dengan ukuran sedang hingga besar dan tersebar luas di seluruh Eropa dan Asia.

Penyebab Keracunan Terbesar di Dunia

Death Cap bertanggung jawab atas sebagian besar kasus kematian akibat jamur di seluruh dunia. Mengapa? Karena ia sering kali keliru dianggap sebagai jamur merang (paddy straw mushroom) yang populer dikonsumsi. Secara kimiawi, toksisitasnya tidak banyak berkurang meskipun telah melalui proses pembekuan, pengeringan, atau bahkan perebusan suhu tinggi. Sekali racunnya masuk ke sistem tubuh, ia akan mulai bekerja dalam diam.

3. Deadly Galerina (Galerina marginata)

Jamur saprofit ini sering tumbuh pada batang kayu yang membusuk. Meskipun tampak seperti jamur kayu biasa yang tidak berbahaya, Deadly Galerina mengandung racun yang sangat jahat: $\alpha$-amanitin.

Mekanisme Serangan

Racun ini bekerja dengan cara menghambat enzim RNA polimerase II, yang secara efektif menghentikan sintesis protein di dalam sel. Organ yang paling pertama terkena dampaknya adalah hati (hepar), diikuti oleh ginjal dan sistem saraf pusat. Tanpa protein baru, sel-sel tubuh akan mati secara massal, menyebabkan gagal organ sistemik.

2. False Morel (Gyromitra)


Anggota genus Gyromitra ini sering disebut secara kolektif sebagai jamur spons. Penampilannya sangat unik; topinya tidak terlipat seperti jamur biasa, melainkan memiliki struktur kompleks yang menyerupai permukaan otak manusia.

Kandungan Kimiawi dan Risiko Kanker

Jamur ini sering keliru diidentifikasi sebagai True Morel (jamur morel sejati yang bisa dimakan). Beberapa spesies Gyromitra mengandung senyawa Monomethylhydrazine (MMH) dengan rumus kimia CH3NHNH2. Selain menyebabkan gejala akut seperti muntah, pusing, dan diare hebat, MMH juga dicurigai kuat bersifat karsinogenik (memicu kanker) jika dikonsumsi dalam jangka panjang, bahkan dalam jumlah sedikit.

1. Destroying Angel (Amanita bisporigera / virosa)

Inilah "Malaikat Pencabut Nyawa" di dunia fungi. Memiliki insang berwarna putih bersih dan bentuk topi yang hampir oval sempurna, jamur ini tampak sangat murni dan menggoda. Destroying Angel adalah salah satu jamur beracun yang paling umum ditemukan di berbagai belahan dunia.

Efek Amatoksin

Sama seperti Death Cap, jamur ini mengandung amatoksin dalam konsentrasi tinggi. Yang membuat jamur ini sangat berbahaya adalah adanya "periode tenang". Setelah dikonsumsi, penderita mungkin merasa sakit, lalu tampak membaik selama satu atau dua hari. Namun, ini adalah tipuan; di dalam tubuh, amatoksin sedang menghancurkan jaringan hati dan ginjal secara total. Saat gejala berat muncul kembali, biasanya kerusakan sudah mencapai tahap terminal.


Memahami Bahaya di Balik Jamur: Apa Itu Mycetism?

Sebagai seorang praktisi medis dan akademisi, Vika, Anda mungkin tertarik memahami bahwa keracunan jamur bukan sekadar "sakit perut". Toksin amatoksin yang ditemukan pada banyak jamur di atas memiliki afinitas tinggi terhadap jaringan hati.

Secara klinis, keracunan ini biasanya terbagi dalam empat tahap:

  1. Tahap Inkubasi: 6–12 jam setelah konsumsi tanpa gejala apa pun.
  2. Tahap Gastrointestinal: Muntah, kram perut, dan diare parah.
  3. Tahap Remisi Semu: Pasien merasa lebih baik, namun enzim hati (SGOT/SGPT) mulai melonjak drastis.
  4. Tahap Gagal Organ: Gagal hati dan ginjal yang sering kali berujung pada kematian atau perlunya transplantasi organ segera.

Tips Aman Berinteraksi dengan Jamur Liar

Mencari jamur di alam bebas (mushrooming) memang hobi yang menyenangkan dan mendekatkan kita dengan alam. Namun, untuk menjaga agar hobi ini tetap sehat, ada satu aturan emas yang tidak boleh dilanggar:

"Jangan pernah memakan jamur kecuali Anda 100% yakin dengan identifikasinya."

Jika Anda seorang pemula, jangan hanya mengandalkan foto dari internet. Banyak jamur beracun yang memiliki "kembaran" jamur konsumsi (look-alikes). Membawa buku panduan lapangan yang spesifik untuk wilayah Anda atau bergabung dengan komunitas mikologi adalah cara terbaik untuk belajar.

Kesimpulan

Alam selalu menyediakan keindahan sekaligus peringatan. Jamur-jamur di atas adalah bukti bahwa keanekaragaman hayati menyimpan rahasia kimiawi yang luar biasa kuat. Dengan memahami bahaya ini, kita bisa lebih menghargai alam tanpa harus mempertaruhkan nyawa. Sempurna untuk menambah wawasan kita semua!


Daftar Pustaka & Referensi

  • BBC News. (2008). Death from 'deadly' fungus meal. [Online Resource].
  • Enjalbert, F., et al. (2002). Amatoxins in Amanita phalloides: Physico-chemical and Biological Properties. Toxicon Journal.
  • FDA Bad Bug Book. (2025). Mushroom Toxins. Food and Drug Administration.
  • Pringle, A., & Vellinga, E. C. (2006). Invasive Mushrooms: The Case of Amanita phalloides. Biological Invasions.
  • Wieland, T. (1986). Peptides of Poisonous Amanita Mushrooms. Springer-Verlag.

No comments:

Post a Comment

Hai, silakan tuliskan apapun terkait isi artikelnya ya. Terima kasih.