Terakhir Diperbarui 31 Januari 2026 | Waktu baca: 12 menit
Dari cara mereka merayap dengan senyap di atas permukaan tanah hingga pandangan matanya yang tak pernah berkedip, ular telah menjadi simbol predator yang paling ditakuti manusia sejak zaman kuno. Bagi sebagian orang, sekadar melihat siluetnya saja sudah cukup untuk memicu lonjakan adrenalin. Namun, di balik reputasi menyeramkan tersebut, terdapat keajaiban evolusi kimia yang luar biasa.
Dalam dunia herpetologi, mengukur tingkat bahaya seekor ular tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan temperamennya saja. Para ilmuwan menggunakan standar yang disebut Median Lethal Dose (LD50). Angka ini menunjukkan jumlah racun yang dibutuhkan untuk membunuh setengah dari populasi subjek uji (biasanya tikus laboratorium). Semakin rendah angka LD50, semakin mematikan bisa ular tersebut.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh pakar Ernst dan Zug (1996), berikut adalah penelusuran mendalam mengenai 12 ular paling beracun yang menghuni planet kita.
12. Puff Adder (Bitis arietans)
Meskipun bukan yang paling beracun secara angka murni di Afrika, Puff Adder bertanggung jawab atas jumlah kematian manusia terbanyak di benua tersebut. Hal ini disebabkan oleh habitatnya yang sering bersinggungan dengan pemukiman padang rumput dan kebiasaannya berjemur di jalur pejalan kaki.
Dengan skor LD50 sebesar 0,14, ular ini menyuntikkan bisa dalam jumlah besar melalui taringnya yang panjang. Gejala gigitannya sangat mengerikan, mulai dari pembengkakan hebat, luka lepuh berdarah, hingga nekrosis (kematian jaringan) yang dapat menyebabkan gangren jika tidak segera ditangani.
11. Forest Cobra (Naja melanoleuca)
Cepat, tangkas, dan mahir memanjat pohon, kobra hutan adalah predator yang harus diwaspadai di belantara Afrika. Saat terancam, ia akan memanjangkan tulang iga di lehernya untuk membentuk tudung yang intimidatif.
Bisa ular ini memiliki LD50 sebesar 0,12. Selain potensinya yang melumpuhkan sistem saraf, kobra hutan memiliki kebiasaan menggigit dan terus mencengkeram mangsanya untuk memastikan volume bisa yang masuk maksimal. Menariknya, komponen neurotoksin dalam bisanya saat ini sedang diteliti untuk potensi pengobatan penyakit Alzheimer.
10. Tiger Snake (Notechis scutatus)
Ditemukan di wilayah Australia, ular macan memiliki corak belang yang menyerupai kucing besar. Mereka sangat menyukai habitat basah seperti anak sungai dan daerah pesisir. Gigitan ular macan yang tidak segera ditangani memiliki tingkat mortalitas hingga 60%. Bisanya menyebabkan paralisis dan gagal pernapasan dalam waktu singkat. Angka toksisitasnya berkisar antara 0,12 hingga 0,4 tergantung pada subspesiesnya.
9. Desert Horned Viper (Cerastes cerastes)
Mudah dikenali karena adanya tanduk kecil di atas matanya, ular ini menghuni padang pasir di Timur Tengah dan Afrika Utara. Ia memiliki gaya bergerak unik yang disebut sidewinding, di mana ia menggeser tubuhnya ke samping untuk bergerak lebih efisien di atas pasir yang longgar. Ernst dan Zug mencatat angka LD50 ular ini pada angka 0,1.
8. Common Krait (Bungarus caeruleus)
Spesies ini adalah anggota dari "The Big Four" di India—empat spesies yang menyebabkan kasus gigitan ular terbanyak di Asia Selatan. Hal yang paling menakutkan dari Krait adalah gigitannya seringkali tidak terasa sakit, membuat korban yang digigit saat tidur merasa hanya terkena gigitan semut. Korban biasanya ditemukan meninggal karena gagal pernapasan beberapa jam kemudian. Angka LD50-nya mencapai 0,09.
7. Boomslang (Dispholidus typus)
Boomslang adalah pengecualian unik dalam keluarga Colubridae. Berwarna cerah dan sering menghuni pepohonan di Afrika, ular ini memiliki taring di bagian belakang rahang. Meskipun terlihat kecil, bisanya memiliki LD50 sebesar 0,07. Bisanya bersifat hemotoksik, yang menghambat proses pembekuan darah dan menyebabkan pendarahan internal maupun eksternal yang hebat.
6. Tiger Rattlesnake (Crotalus tigris)
Ditemukan di Amerika Serikat dan Meksiko, ular derik macan memiliki tingkat toksisitas tertinggi di antara semua jenis ular derik. Dengan angka LD50 sebesar 0,06, meski jumlah bisa yang dikeluarkan dalam satu gigitan cenderung sedikit, paparan bisanya tetap dianggap sebagai kondisi darurat medis kritis yang membutuhkan antibisa segera.
5. Black Mamba (Dendroaspis polylepis)
Black Mamba memegang predikat sebagai ular berbisa terpanjang kedua dan ular tercepat di dunia, mampu bergerak hingga 14 mil per jam. Dengan LD50 sebesar 0,05, bisa ular ini dapat menyebabkan gagal pernapasan atau serangan jantung pada manusia dalam waktu 30 hingga 60 menit. Meskipun tingkat kematiannya mencapai 100% tanpa pengobatan, keberadaan antibisa modern telah menurunkan angka mortalitas secara signifikan.
4. Eastern Brown Snake (Pseudonaja textilis)
Australia kembali menyumbangkan predator mematikan dalam daftar ini. Ular cokelat timur memiliki racun dengan LD50 antara 0,03 hingga 0,05. Bisanya merupakan kombinasi mematikan antara neurotoksin dan koagulan darah. Gerakannya yang agresif saat merasa terpojok membuatnya menjadi salah satu ular paling berbahaya di daratan Australia.
3 Besar: Sang Raja Bisa
| Peringkat | Nama Ular | Angka LD50 | Habitat Utama |
| 3 | Russell's Viper | 0,03 | Asia (India, Thailand) |
| 2 | Inland Taipan | 0,01 - 0,03 | Australia (Pedalaman) |
| 1 | Sea Snakes | 0,01 - 0,02 | Perairan Indo-Pasifik |
3. Russell's Viper (Daboia russelii)
Ular ini adalah ancaman nyata bagi pekerja ladang di Asia. Karena tertarik pada populasi tikus di sekitar pemukiman manusia, kontak dengan manusia sering terjadi. Bisanya menyebabkan pembengkakan luar biasa, pendarahan hebat, dan gagal ginjal akut. Seringkali antibisa harus disesuaikan dengan daerah asal ular karena karakteristik racunnya yang berbeda-beda di setiap wilayah (misalnya neurotoksik di India vs hemotoksik di Thailand).
2. Taipan Pedalaman (Oxyuranus microlepidotus)
Dikenal juga dengan nama "Ular Ganas", Taipan Pedalaman adalah ular darat paling berbisa di dunia. Meskipun memiliki bisa yang mampu membunuh 100 orang dalam satu gigitan, ular ini sebenarnya sangat pemalu dan cenderung menghindari kontak dengan manusia. Bisanya mengandung neurotoksin yang melumpuhkan saraf serta faktor prokoagulan yang membekukan darah di dalam pembuluh darah seketika.
1. Sea Snakes (Ular Laut)
Puncak dari daftar ini ditempati oleh kelompok ular laut, khususnya Hook-nosed sea snake dan Belcher's sea snake. Angka LD50 mereka sangat ekstrem, berada di bawah 0,02 hingga 0,01. Hanya dibutuhkan sekitar 1,5 mg bisa untuk membunuh manusia dewasa. Untungnya, ular laut umumnya tidak agresif kecuali jika mereka terjaring oleh nelayan atau merasa sangat terancam saat berada di bawah air.
Kesimpulan: Menghargai Sang Predator
Meskipun daftar di atas memperlihatkan sisi mengerikan dari ular, penting bagi kita untuk mengingat bahwa ular berperan penting sebagai pengendali hama alami (seperti tikus) dalam ekosistem. Sebagian besar kasus gigitan ular terjadi karena adanya provokasi yang tidak disengaja dari manusia.
Jika Anda berada di daerah yang dikenal sebagai habitat ular berbisa, pencegahan adalah kunci utama: gunakan sepatu tertutup, perhatikan langkah Anda, dan jangan pernah mencoba memegang ular liar tanpa keahlian khusus. Sempurna!
Daftar Pustaka & Referensi
- Ernst, C. H., & Zug, G. R. (1996). Snakes in Question: The Smithsonian Answer Book. Smithsonian Institution Press.
- Fry, B. G. (2025). Venomous Reptiles and Their Toxins: Evolution, Pathophysiology and Biodiscovery. Oxford University Press.
- Journal of Herpetology. (2024). Comparative Analysis of LD50 in Elapidae and Viperidae Families.
- Environmental Graffiti. 10 Most Poisonous Snakes on Earth.
- World Health Organization (WHO). Snakebite Envenoming: Fact Sheet and Prevention Guidelines.