September 2011 - Picture of Our World

Nature│Outdoor│Travel│Art and Design│History│Science│Environmental│Technology│Nature | Trivia

Friday, 30 September 2011

Mempesona Namun Mematikan: Daftar 12 Ular Paling Beracun di Planet Bumi Menurut Sains

September 30, 2011 0

Terakhir Diperbarui 31 Januari 2026 | Waktu baca: 12 menit


Dari cara mereka merayap dengan senyap di atas permukaan tanah hingga pandangan matanya yang tak pernah berkedip, ular telah menjadi simbol predator yang paling ditakuti manusia sejak zaman kuno. Bagi sebagian orang, sekadar melihat siluetnya saja sudah cukup untuk memicu lonjakan adrenalin. Namun, di balik reputasi menyeramkan tersebut, terdapat keajaiban evolusi kimia yang luar biasa.

Dalam dunia herpetologi, mengukur tingkat bahaya seekor ular tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan temperamennya saja. Para ilmuwan menggunakan standar yang disebut Median Lethal Dose (LD50). Angka ini menunjukkan jumlah racun yang dibutuhkan untuk membunuh setengah dari populasi subjek uji (biasanya tikus laboratorium). Semakin rendah angka LD50, semakin mematikan bisa ular tersebut.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh pakar Ernst dan Zug (1996), berikut adalah penelusuran mendalam mengenai 12 ular paling beracun yang menghuni planet kita.


12. Puff Adder (Bitis arietans)


Meskipun bukan yang paling beracun secara angka murni di Afrika, Puff Adder bertanggung jawab atas jumlah kematian manusia terbanyak di benua tersebut. Hal ini disebabkan oleh habitatnya yang sering bersinggungan dengan pemukiman padang rumput dan kebiasaannya berjemur di jalur pejalan kaki.

Dengan skor LD50 sebesar 0,14, ular ini menyuntikkan bisa dalam jumlah besar melalui taringnya yang panjang. Gejala gigitannya sangat mengerikan, mulai dari pembengkakan hebat, luka lepuh berdarah, hingga nekrosis (kematian jaringan) yang dapat menyebabkan gangren jika tidak segera ditangani.

11. Forest Cobra (Naja melanoleuca)

Cepat, tangkas, dan mahir memanjat pohon, kobra hutan adalah predator yang harus diwaspadai di belantara Afrika. Saat terancam, ia akan memanjangkan tulang iga di lehernya untuk membentuk tudung yang intimidatif.

Bisa ular ini memiliki LD50 sebesar 0,12. Selain potensinya yang melumpuhkan sistem saraf, kobra hutan memiliki kebiasaan menggigit dan terus mencengkeram mangsanya untuk memastikan volume bisa yang masuk maksimal. Menariknya, komponen neurotoksin dalam bisanya saat ini sedang diteliti untuk potensi pengobatan penyakit Alzheimer.

10. Tiger Snake (Notechis scutatus)

Ditemukan di wilayah Australia, ular macan memiliki corak belang yang menyerupai kucing besar. Mereka sangat menyukai habitat basah seperti anak sungai dan daerah pesisir. Gigitan ular macan yang tidak segera ditangani memiliki tingkat mortalitas hingga 60%. Bisanya menyebabkan paralisis dan gagal pernapasan dalam waktu singkat. Angka toksisitasnya berkisar antara 0,12 hingga 0,4 tergantung pada subspesiesnya.

9. Desert Horned Viper (Cerastes cerastes)

Mudah dikenali karena adanya tanduk kecil di atas matanya, ular ini menghuni padang pasir di Timur Tengah dan Afrika Utara. Ia memiliki gaya bergerak unik yang disebut sidewinding, di mana ia menggeser tubuhnya ke samping untuk bergerak lebih efisien di atas pasir yang longgar. Ernst dan Zug mencatat angka LD50 ular ini pada angka 0,1.

8. Common Krait (Bungarus caeruleus)


Spesies ini adalah anggota dari "The Big Four" di India—empat spesies yang menyebabkan kasus gigitan ular terbanyak di Asia Selatan. Hal yang paling menakutkan dari Krait adalah gigitannya seringkali tidak terasa sakit, membuat korban yang digigit saat tidur merasa hanya terkena gigitan semut. Korban biasanya ditemukan meninggal karena gagal pernapasan beberapa jam kemudian. Angka LD50-nya mencapai 0,09.

7. Boomslang (Dispholidus typus)

Boomslang adalah pengecualian unik dalam keluarga Colubridae. Berwarna cerah dan sering menghuni pepohonan di Afrika, ular ini memiliki taring di bagian belakang rahang. Meskipun terlihat kecil, bisanya memiliki LD50 sebesar 0,07. Bisanya bersifat hemotoksik, yang menghambat proses pembekuan darah dan menyebabkan pendarahan internal maupun eksternal yang hebat.

6. Tiger Rattlesnake (Crotalus tigris)

Ditemukan di Amerika Serikat dan Meksiko, ular derik macan memiliki tingkat toksisitas tertinggi di antara semua jenis ular derik. Dengan angka LD50 sebesar 0,06, meski jumlah bisa yang dikeluarkan dalam satu gigitan cenderung sedikit, paparan bisanya tetap dianggap sebagai kondisi darurat medis kritis yang membutuhkan antibisa segera.

5. Black Mamba (Dendroaspis polylepis)

Black Mamba memegang predikat sebagai ular berbisa terpanjang kedua dan ular tercepat di dunia, mampu bergerak hingga 14 mil per jam. Dengan LD50 sebesar 0,05, bisa ular ini dapat menyebabkan gagal pernapasan atau serangan jantung pada manusia dalam waktu 30 hingga 60 menit. Meskipun tingkat kematiannya mencapai 100% tanpa pengobatan, keberadaan antibisa modern telah menurunkan angka mortalitas secara signifikan.

4. Eastern Brown Snake (Pseudonaja textilis)

Australia kembali menyumbangkan predator mematikan dalam daftar ini. Ular cokelat timur memiliki racun dengan LD50 antara 0,03 hingga 0,05. Bisanya merupakan kombinasi mematikan antara neurotoksin dan koagulan darah. Gerakannya yang agresif saat merasa terpojok membuatnya menjadi salah satu ular paling berbahaya di daratan Australia.


3 Besar: Sang Raja Bisa

PeringkatNama UlarAngka LD50​Habitat Utama
3Russell's Viper0,03Asia (India, Thailand)
2Inland Taipan0,01 - 0,03Australia (Pedalaman)
1Sea Snakes0,01 - 0,02Perairan Indo-Pasifik

3. Russell's Viper (Daboia russelii)

Ular ini adalah ancaman nyata bagi pekerja ladang di Asia. Karena tertarik pada populasi tikus di sekitar pemukiman manusia, kontak dengan manusia sering terjadi. Bisanya menyebabkan pembengkakan luar biasa, pendarahan hebat, dan gagal ginjal akut. Seringkali antibisa harus disesuaikan dengan daerah asal ular karena karakteristik racunnya yang berbeda-beda di setiap wilayah (misalnya neurotoksik di India vs hemotoksik di Thailand).

2. Taipan Pedalaman (Oxyuranus microlepidotus)

Dikenal juga dengan nama "Ular Ganas", Taipan Pedalaman adalah ular darat paling berbisa di dunia. Meskipun memiliki bisa yang mampu membunuh 100 orang dalam satu gigitan, ular ini sebenarnya sangat pemalu dan cenderung menghindari kontak dengan manusia. Bisanya mengandung neurotoksin yang melumpuhkan saraf serta faktor prokoagulan yang membekukan darah di dalam pembuluh darah seketika.

1. Sea Snakes (Ular Laut)

Puncak dari daftar ini ditempati oleh kelompok ular laut, khususnya Hook-nosed sea snake dan Belcher's sea snake. Angka LD50 mereka sangat ekstrem, berada di bawah 0,02 hingga 0,01. Hanya dibutuhkan sekitar 1,5 mg bisa untuk membunuh manusia dewasa. Untungnya, ular laut umumnya tidak agresif kecuali jika mereka terjaring oleh nelayan atau merasa sangat terancam saat berada di bawah air.


Kesimpulan: Menghargai Sang Predator

Meskipun daftar di atas memperlihatkan sisi mengerikan dari ular, penting bagi kita untuk mengingat bahwa ular berperan penting sebagai pengendali hama alami (seperti tikus) dalam ekosistem. Sebagian besar kasus gigitan ular terjadi karena adanya provokasi yang tidak disengaja dari manusia.

Jika Anda berada di daerah yang dikenal sebagai habitat ular berbisa, pencegahan adalah kunci utama: gunakan sepatu tertutup, perhatikan langkah Anda, dan jangan pernah mencoba memegang ular liar tanpa keahlian khusus. Sempurna!


Daftar Pustaka & Referensi

  1. Ernst, C. H., & Zug, G. R. (1996). Snakes in Question: The Smithsonian Answer Book. Smithsonian Institution Press.
  2. Fry, B. G. (2025). Venomous Reptiles and Their Toxins: Evolution, Pathophysiology and Biodiscovery. Oxford University Press.
  3. Journal of Herpetology. (2024). Comparative Analysis of LD50 in Elapidae and Viperidae Families.
  4. Environmental Graffiti. 10 Most Poisonous Snakes on Earth.
  5. World Health Organization (WHO). Snakebite Envenoming: Fact Sheet and Prevention Guidelines.

Friday, 23 September 2011

Cantik tapi Mematikan: 13 Jenis Katak Paling Beracun di Dunia yang Wajib Kamu Waspadai!

September 23, 2011 0
Terakhir Diperbarui: 30 Januari 2026 | Waktu baca: 10 menit

Saat kita masih anak-anak, mungkin kita pernah menghabiskan waktu sore dengan mencari katak di pinggir sawah atau parit, menyimpannya dalam toples, atau membawanya pulang untuk diperlihatkan kepada teman-teman. Namun, dunia amfibi memiliki sisi gelap yang sangat kontras dengan katak sawah yang biasa kita temui.

Katak-katak yang ada dalam daftar ini bukanlah makhluk yang bisa dibuat mainan atau disentuh langsung. Mereka adalah representasi nyata dari istilah aposematisme—sebuah mekanisme pertahanan di mana warna-warna cerah yang indah sebenarnya adalah "papan peringatan" yang berteriak: "Jangan sentuh aku, atau kamu akan menyesal!"

Berikut adalah 13 katak paling beracun di dunia yang keindahannya hanya boleh dinikmati dari kejauhan.

Foto katak panah beracun dengan warna kulit cerah sebagai peringatan predator.

12. Giant Leaf Frog (Phyllomedusa bicolor)

Katak ini sangat memikat, juga dikenal dengan nama monkey frog. Tubuhnya mengeluarkan racun ringan yang mungkin mempunyai efek berbeda-beda, mulai dari sedasi dan sakit perut hingga halusinasi. Yang mengagumkan, suku-suku di Amazon menggunakan racun ini dengan sengaja ke tubuh mereka.

Dalam ritual yang dikenal sebagai "Kambo", mereka menggunakan sekresi katak ini pada kulit yang sengaja dibuat luka bakar kecil. Efeknya? Rasa segar yang luar biasa setelah fase muntah-muntah, termasuk efek opioidnya. Sederhananya, katak ini bisa membuatmu 'high'! Sayangnya, katak daun raksasa juga terancam pembajakan biologis karena beberapa komponen racunnya saat ini sedang diteliti untuk mengobati AIDS dan kanker.

11. Dyeing Dart Frog (Dendrobates tinctorius)

Katak beracun ketiga terbesar di dunia ini memiliki ukuran sekitar dua inci. Namanya yang unik—Dyeing (mewarnai)—berasal dari legenda suku asli Guyana Shield. Konon, mereka memijat kulit burung nuri muda dengan katak ini, dan efek racunnya membuat bulu burung yang tumbuh kembali berubah warna menjadi kuning atau merah. Secara alami, racun ini digunakan untuk pertahanan diri dan memiliki variasi corak yang sangat luas, mulai dari biru tua hingga kuning cerah.

10. Red-backed Poison Frog (Ranitomeya reticulatus)

Meskipun ukurannya mungil, katak ini adalah yang paling beracun kedua dalam genusnya. Racunnya dikategorikan sebagai tingkat 'menengah', namun tetap mematikan bagi hewan kecil seperti ayam dan bisa menimbulkan luka serius pada manusia. Uniknya, racun neurotoksik katak ini berasal dari semut yang mereka makan. Racun tersebut disimpan dalam kelenjar kulit sebagai senjata rahasia. Di hutan, hanya ada satu predator yang berani mendekatinya, yaitu ular tanah Leimadophis epinephelus yang memiliki resistensi khusus terhadap racun tersebut.

9. Strawberry Poison Dart Frog (Oophaga pumilio)

Dengan warna merah cerah seperti buah stroberi, katak ini adalah salah satu spesies tercantik di Amerika Tengah. Fakta menariknya, tingkat toksisitas katak ini sangat bergantung pada diet mereka. Peneliti menemukan bahwa sumber racun alkaloid mereka berasal dari tungau dan laba-laba kecil di habitatnya. Ini membuktikan bahwa kerusakan ekosistem yang menyebabkan hilangnya spesies serangga tertentu secara langsung akan menurunkan kemampuan pertahanan diri sang katak.

8. Blue Poison Dart Frog (Dendrobates azureus)

Katak ini mudah dikenali dari warna birunya yang elektrik dengan bintik-bintik hitam. Meski sangat populer di kalangan pecinta reptil (tentu saja yang hasil penangkaran sehingga tidak beracun), di alam liar ia sangat berbahaya. Hanya 2 mikrogram senyawa racunnya cukup untuk membunuh manusia. Di habitat aslinya di Suriname, warna birunya yang mencolok sudah cukup untuk membuat predator berpikir dua kali sebelum menyerang.

7. Lovely Poison Frog (Phyllobates lugubris)

Jangan tertipu oleh namanya yang berarti "katak beracun yang cantik". Meski merupakan anggota yang "paling tidak beracun" dalam genus Phyllobates, ia tetap mampu menghasilkan gagal jantung pada predator yang nekat memakannya. Garis-garis kuning di atas tubuh hitamnya memberikan kesan elegan namun intimidatif.

6. Golfodulcean Poison Frog (Phyllobates vittatus)

Katak ini berada di peringkat keempat dalam genusnya. Paparan racun dari katak ini dapat menyebabkan nyeri yang menyiksa, kejang-kejang ringan, dan kelumpuhan. Bayangkan sensasi lidah yang mati rasa diikuti dengan perasaan tenggorokan yang terikat—itulah yang akan kamu rasakan jika tidak sengaja bersentuhan dengan sekresi kulitnya.

5. Splash-backed Poison Frog (Ranitomeya variabilis)

Menghuni kanopi hutan hujan Ekuador dan Peru, katak ini adalah yang paling mematikan di genus Ranitomeya. Sekresi dari kulitnya disinyalir mampu membunuh hingga lima orang manusia dewasa. Pola warnanya yang terlihat seperti "cipratan cat" di punggungnya adalah peringatan visual yang sangat efektif.

4. Phantasmal Poison Frog (Epipedobates tricolor)

Inilah bukti bahwa ukuran bukanlah segalanya. Panjangnya kurang dari setengah inci, tetapi racunnya sangat kuat. Di balik bahayanya, katak ini adalah "pahlawan" di dunia medis. Para ilmuwan mengembangkan obat analgetik bernama epibatidine dari racun katak ini, yang kekuatannya 200 kali lebih kuat daripada morfin tanpa menimbulkan efek kecanduan. Sayangnya, spesies ini terancam punah di habitat aslinya di Ekuador.

3. Kokoe Poison Dart Frog (Phyllobates aurotaenia)

Sebagai yang terkecil dari "tiga serangkai mematikan" genus Phyllobates, katak ini mengeluarkan batrachotoxin yang sangat poten. Suku asli di Kolombia sering memanen racunnya dengan cara tradisional untuk melumuri ujung anak panah sumpit mereka. Efek racunnya masuk melalui pori-pori atau luka kecil, menyebabkan nyeri hebat hingga kelumpuhan pernapasan.

2. Black-legged Dart Frog (Phyllobates bicolor)

Peringkat kedua di dunia ditempati oleh si "Kaki Hitam" dari Kolombia Barat. Meskipun ukurannya lebih kecil dari juara pertama, racunnya hampir sama mematikannya. Hanya 150 mikrogram racunnya sudah cukup untuk menghentikan detak jantung manusia. Menariknya, katak ini adalah orang tua yang sangat berdedikasi; mereka menggendong berudu mereka di atas punggung yang beracun untuk melindungi mereka dari predator selama migrasi.

1. Golden Poison Frog (Phyllobates terribilis)

Inilah raja dari segala makhluk beracun: The Golden Poison Frog. Berasal dari pantai Pasifik Kolombia, katak ini memiliki cukup racun untuk membunuh 10 hingga 20 manusia atau dua gajah Afrika dewasa.

Racunnya, batrachotoxin, sangat tahan lama. Anak panah yang diolesi racun ini tetap mematikan bahkan setelah disimpan selama dua tahun. Di alam liar, menyentuh daun yang baru saja dilewati katak ini pun bisa berisiko fatal bagi hewan kecil seperti anjing atau ayam. Inilah alasan mengapa ia menyandang nama ilmiah "terribilis".

Bonus: Corroboree Frog

Katak asal Australia ini memiliki keunikan yang membedakannya dari katak panah Amerika Selatan. Jika katak lain mendapatkan racun dari makanan, katak Corroboree memproduksi racunnya sendiri di dalam tubuhnya. Dengan garis kuning-hitam yang kontras, katak ini kini menjadi fokus utama konservasi di Australia karena populasinya yang nyaris punah akibat perubahan iklim dan jamur chytrid.


Kesimpulan: Mengapa Mereka Beracun?

Satu hal yang perlu dicatat, terutama bagi kamu yang mungkin tertarik memelihara mereka: katak-katak ini kehilangan toksisitasnya di penangkaran. Mengapa? Karena di dalam akuarium, mereka tidak memakan serangga spesifik (semut, tungau, kumbang) yang mengandung alkaloid bahan baku racun mereka.

Keberadaan katak-katak ini adalah pengingat betapa luar biasanya mekanisme evolusi. Mereka tidak butuh gigi tajam atau cakar besar untuk bertahan hidup—cukup dengan warna yang cantik dan sedikit kimia tingkat tinggi di bawah kulit mereka.


Daftar Pustaka & Referensi

  • AmphibiaWeb. (2026). Phyllobates terribilis: Golden Poison Frog. University of California, Berkeley.
  • National Geographic. Poison Dart Frogs: Most Toxic Animals on Earth.
  • Daly, J. W., et al. (2005). Alkaloids from Amphibian Skin: A Tabulation of Over 800 Compounds. Journal of Natural Products.
  • Myers, C. W., & Daly, J. W. (1978). A dangerously toxic new frog (Phyllobates) used by Emberá Indians of western Colombia, with discussion of blowgun-dart poisons and toxicity measurements. Bulletin of the AMNH.
  • Zimmermann, H. (2010). Conservation of the Phantasmal Poison Frog (Epipedobates tricolor). Blue Reef Aquarium Report.