
Terakhir Diperbarui: 3 Februari 2026 | Waktu baca: 11 menit
Dunia internet pada tahun 2010 mungkin terasa sangat berbeda dengan era media sosial yang kita kenal sekarang. Saat itu, blog pribadi masih menjadi raja, dan kreativitas organik sering kali muncul tanpa bantuan algoritma yang rumit. Di tengah lautan konten digital tersebut, muncul sebuah fenomena yang tampak mustahil namun sangat menenangkan: seorang gadis muda yang melayang di berbagai sudut kota Tokyo.
Semuanya dimulai pada 16 September 2010. Seorang fotografer muda bernama Natsumi Hayashi mengunggah sebuah foto di blog pribadinya yang berjudul "Levitasi Hari Ini" (Today's Levitation). Foto tersebut bukan hanya sebuah potret diri biasa; itu adalah potret Hayashi yang sedang "terbang" beberapa inci di atas tanah dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah-olah hukum gravitasi tidak berlaku baginya. Sisanya, sebagaimana orang bilang, adalah sejarah.
Filosofi di Balik Tubuh yang Tidak Menapak Bumi
Bagi orang awam, foto-foto Hayashi mungkin terlihat seperti trik kamera yang lucu atau sekadar mencari sensasi. Namun, bagi Natsumi, ada filosofi mendalam yang melatarbelakangi keputusannya untuk melayang. Dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail, ia mengungkapkan bahwa inspirasinya datang dari sebuah idiom bahasa Inggris yang sangat populer: ‘to have one’s feet firmly planted on the ground’ (memiliki kaki yang menapak tegak di atas tanah).
Idiom ini merujuk pada seseorang yang bersikap praktis, realistis, dan mengikuti norma sosial yang ada. Menariknya, Jepang memiliki ungkapan yang serupa. Namun, Hayashi merasa bahwa dirinya bukanlah orang yang "praktis" dalam pengertian konvensional. Ia memilih untuk secara harfiah tidak menapakkan kakinya di tanah untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
"Dengan gambar bebas gravitasi, saya merasa tidak terikat dengan adat kebiasaan masyarakat. Saya merasa tidak terikat dengan banyak hal dan mampu menjadi diri saya sendiri," jelas Hayashi.
Melayang baginya adalah bentuk pemberontakan lembut. Di tengah masyarakat Tokyo yang sangat teratur, disiplin, dan sering kali menyesakkan dengan segala aturannya, Hayashi menciptakan ruang kebebasannya sendiri melalui setiap lompatan.
Teknis di Balik "Sihir": Bukan Photoshop, Melainkan Kerja Keras
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah: "Apakah dia menggunakan sulap atau Photoshop?" Jawabannya adalah tidak keduanya. Natsumi Hayashi adalah seorang purist dalam hal teknis fotografi levitasi. Rahasianya sangat sederhana namun sekaligus sangat rumit: pengulangan dan waktu.
Proses kreatifnya biasanya mengikuti langkah-langkah berikut:
- Pencarian Lokasi: Hayashi akan berkeliling Tokyo mencari lokasi yang kontras antara kesibukan kota dan ketenangan posesnya.
- Peralatan: Ia menggunakan kamera Canon EOS 5D Mark II yang mumpuni.
- Eksekusi: Ia mengatur self-timer atau meminta bantuan teman untuk menekan tombol shutter.
- Lompatan: Ia akan melompat berulang kali.
Yang membuatnya luar biasa bukanlah peralatan canggihnya, melainkan dedikasinya. Untuk mendapatkan satu foto "melayang" yang sempurna—di mana pakaian tidak terlihat berantakan dan ekspresi wajah tetap datar tanpa ketegangan—Hayashi terkadang harus melompat hingga 300 kali. Bayangkan rasa lelah yang harus ia tanggung demi satu bingkai keajaiban. Ia harus memastikan kakinya terangkat, tubuhnya sejajar, dan wajahnya tetap tenang seolah-olah ia memang sedang melayang secara alami, bukan sedang melompat sekuat tenaga.
Reaksi Publik: Antara Kagum dan "Gila"
Melompat ratusan kali di depan umum tentu bukan tanpa konsekuensi sosial. Tokyo adalah kota yang sangat menjaga privasi dan ketertiban. Ketika Hayashi mulai melompat-lompat di tengah trotoar atau stasiun kereta yang sibuk, bisik-bisik dari orang sekitar tak terhindarkan.
Ada sebuah kisah lucu saat Hayashi sedang melakukan sesi pemotretan di sebuah tempat wisata di barat Tokyo. Seorang kasir toko suvenir mulai panik melihat tingkah lakunya. Kasir tersebut berbisik kepada rekannya, "Apa dia sudah gila? Haruskah kita panggil polisi?"
Mendengar hal itu, Hayashi dengan cerdik menghentikan lompatannya dan memberikan alasan yang tak terduga. Ia berkata bahwa ia sedang mengambil foto untuk keperluan slideshow di pesta pernikahannya. Seketika, suasana berubah. Kasir tersebut merasa malu dan justru memberikan ucapan selamat serta mendoakan kesuksesannya. Ini menunjukkan betapa cerdasnya Hayashi dalam menavigasi norma sosial sembari tetap setia pada visinya.
Akhir dari Era "Today's Levitation"
Setiap perjalanan kreatif memiliki masanya sendiri. Natsumi Hayashi secara resmi berhenti mengunggah foto-foto melayangnya pada 10 Mei 2012. Blognya, Yowa Yowa Camera Woman Diary (Buku Harian Fotografer Wanita yang Lemah), tetap menjadi saksi bisu kesuksesannya.
Alasannya berhenti bukanlah karena ia kehilangan minat, melainkan karena ia ingin melangkah lebih jauh dalam dunia profesional. Selama dua tahun terakhir dari masa "melayangnya", ia bekerja paruh waktu sebagai asisten artis untuk mempelajari rahasia fotografi tingkat lanjut. Ia ingin dikenal bukan hanya sebagai "Gadis Melayang", tetapi sebagai fotografer profesional yang kompeten. Fokusnya beralih dari subjek di depan kamera menjadi mata di balik lensa.
Perbandingan Budaya: Melayang di Tokyo vs. Ciuman di Paris
Karya Natsumi Hayashi sering kali dibandingkan dengan proyek seni unik lainnya dari Asia, salah satunya adalah seri "100 Ciuman di Paris" karya seorang fotografer perempuan asal Taiwan. Proyek tersebut mendokumentasikan sang fotografer yang sedang mencuri ciuman dari 100 pria asing di Paris saat ia sedang menempuh studi di sana.
Kedua proyek ini memiliki kesamaan mendasar: mereka menggunakan tubuh sang seniman sendiri di lingkungan asing atau padat untuk mengekspresikan keberanian dan kebebasan individu. Jika foto di Paris adalah tentang koneksi dan emosi manusia, foto Hayashi di Tokyo adalah tentang kesendirian yang indah dan pelepasan dari belenggu fisik serta sosial.

Warisan Natsumi Hayashi bagi Dunia Fotografi
Meskipun Natsumi sudah tidak lagi melompat di jalanan Tokyo, pengaruhnya tetap terasa hingga hari ini. Ia mempopulerkan tren fotografi levitasi yang kemudian diikuti oleh jutaan orang di Instagram dan platform lainnya. Ia membuktikan bahwa:
- Keindahan tidak butuh CGI: Kerja keras manual tetap memiliki nilai estetika yang tak tertandingi.
- Konteks adalah Segalanya: Foto melayang di taman biasa mungkin membosankan, tapi melayang di depan mesin penjual otomatis (vending machine) atau di tengah kerumunan stasiun Shinjuku adalah sebuah pernyataan seni.
- Identitas melalui Lensa: Seni adalah cara terbaik untuk menunjukkan sisi diri yang tidak bisa diterima oleh masyarakat praktis.
Natsumi Hayashi telah mengajarkan kita bahwa meskipun dunia memaksa kita untuk menapakkan kaki kuat-kuat di tanah, sesekali kita perlu melepaskan diri, melompat, dan merasakan kebebasan meski hanya untuk sepersekian detik dalam sebuah foto.
Daftar Pustaka & Daftar Acuan
- Oddity Central. Natsumi Hayashi: Tokyo's Levitating Girl. [
]http://www.odditycentral.com/pics/natsumi-hayashi-tokyos-levitating-girl.html - Daily Mail Online. The Girl Who Thinks She Can Fly: Japanese Photographer Natsumi Hayashi and Her Levitation Self-Portraits.
- Hayashi, Natsumi. Yowa Yowa Camera Woman Diary. (Official Blog Archives).
- The Guardian. Levitation Photography: From Natsumi Hayashi to the Mainstream.
- Canon Professional Network. Capturing the Impossible: A Technical Look at Levitation Self-Portraits.



