
Terakhir Diperbarui 3 Februari 2026 | Waktu baca: 11 menit
Di bawah rimbunnya kanopi hutan hujan tropis tertua di dunia, sebuah kejutan besar tersembunyi selama lebih dari dua dekade. Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, yang membentang di ujung utara Pulau Sumatera, baru-baru ini menjadi pusat perhatian dunia konservasi. Bukan karena bencana, melainkan karena kemunculan kembali sosok "hantu rimba" yang sempat dinyatakan punah dari wilayah tersebut: Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).
Momen dramatis tertangkap oleh kamera tersembunyi ketika seekor badak betina mendongakkan kepala, menyentuhkan moncongnya pada batang pohon dengan gerakan yang sangat alami, seolah sedang menghirup aroma hutan yang telah melindunginya selama ini. Foto bertanggal 9 Desember 2011 tersebut menjadi bukti tak terbantahkan bahwa spesies yang berada di ambang kritis ini masih bertahan, bersembunyi di balik rapatnya vegetasi Leuser.
Penemuan Kembali: Keajaiban di Balik Kamera Jebak
Yayasan Leuser International (YLI) bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser melakukan sebuah misi rahasia selama pertengahan tahun 2011. Dengan memasang sekitar 30 unit kamera jebak (camera trap) yang dilengkapi sensor inframerah, tim peneliti mencoba memetakan kehidupan di lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat berendam badak.
Hasilnya luar biasa. Hampir seribu foto berhasil dikumpulkan. Gambar-gambar tersebut menunjukkan aktivitas badak yang sangat sehat; ada yang sedang mencari makan di dataran tinggi, ada pula yang sedang menikmati kubangan lumpur. Penemuan ini mematahkan anggapan lama bahwa badak Sumatera telah punah dari kawasan Leuser setelah tidak terlihat selama 26 tahun. Estimasi populasi di kawasan seluas 2,6 juta hektare ini diperkirakan berkisar antara 7 hingga 25 ekor.
Strategi perlindungan pun segera diperketat. Koordinat pasti kemunculan badak ini dirahasiakan rapat-rapat. Berbeda dengan badak Jawa di Ujung Kulon yang habitatnya relatif terlindungi secara geografis, badak di Leuser hidup di hutan terbuka yang rentan dimasuki oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Mengenal Si Kecil yang Unik: Karakteristik Badak Sumatera
Badak Sumatera merupakan spesies yang sangat istimewa di antara lima spesies badak yang tersisa di dunia (Badak Putih, Badak Hitam, Badak India, Badak Jawa, dan Badak Sumatera). Ia memegang gelar sebagai badak terkecil di dunia dengan tinggi bahu hanya sekitar 120 hingga 145 sentimeter.
Keunikan utamanya terletak pada rambutnya. Badak Sumatera adalah satu-satunya spesies badak yang memiliki bulu atau rambut kasar berwarna kemerahan di sekujur tubuhnya, sebuah ciri evolusi yang mengingatkan kita pada kerabat purbanya, Badak Berbulu (Woolly Rhino) yang telah punah. Selain itu, badak Sumatera memiliki dua cula, berbeda dengan badak Jawa yang hanya bercula satu.
Identifikasi jenis kelamin pada spesies ini dilakukan melalui ciri morfologi. Jantan biasanya bertubuh lebih besar dengan cula yang lebih panjang dan meruncing tajam. Sementara betina memiliki cula yang lebih pendek dan tumpul. Sebagai hewan yang sangat bergantung pada kubangan lumpur untuk menjaga suhu tubuh dan kesehatan kulit, keberadaan sumber air dan tanah berlumpur menjadi indikator utama habitat yang sehat bagi mereka.
Status Konservasi: Selangkah Menuju Kepunahan
Meskipun penemuan di Leuser membawa angin segar, kenyataan pahit tetap harus dihadapi. Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) menempatkan badak Sumatera dalam status Critically Endangered (Kritis). Dengan jumlah populasi global yang diperkirakan kurang dari 200 ekor (bahkan beberapa data terbaru menunjukkan angka di bawah 80 ekor), spesies ini benar-benar berada di ujung tanduk.
Indonesia kini menjadi satu-satunya harapan bagi keberlangsungan hidup badak Sumatera. Setelah dinyatakan punah di alam liar Malaysia, fokus konservasi dunia kini tertuju pada Leuser, Taman Nasional Way Kambas di Lampung, dan sebagian kecil di Kalimantan.
Ancaman Nyata: Perburuan Liar dan Mitos Kedokteran
Mengapa jumlah mereka menurun drastis hingga 50 persen dalam dua dekade terakhir? Penyebab utamanya adalah perburuan liar yang didorong oleh keserakahan manusia. Cula badak, yang secara ilmiah hanya terdiri dari keratin (zat yang sama dengan kuku dan rambut manusia), dihargai sangat mahal di pasar gelap. Menurut CITES, harganya bisa menembus angka US$ 60 ribu atau hampir satu miliar rupiah per kilogram.
Permintaan pasar terbesar datang dari negara-negara seperti Cina dan Vietnam. Di sana, mitos bahwa cula badak dapat menyembuhkan berbagai penyakit—mulai dari demam ringan, sakit jantung, hingga kanker—masih sangat kuat. Padahal, secara medis, khasiat tersebut sama sekali tidak terbukti. Selain perburuan, perambahan hutan dan konversi lahan menjadi perkebunan telah mengfragmentasi habitat badak, membuat mereka terisolasi dan sulit untuk berkembang biak secara alami.
Andatu: Secercah Cahaya dari Way Kambas
Di tengah bayang-bayang kepunahan, sebuah keajaiban lahir pada 23 Juni 2012 di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas. Seekor bayi badak jantan bernama Andatu lahir dari pasangan Andalas dan Ratu. Kelahiran ini menjadi peristiwa bersejarah karena merupakan kelahiran badak Sumatera pertama di penangkaran di Asia dalam 124 tahun terakhir.
Nama Andatu merupakan singkatan dari "Anugerah Dari Tuhan", sekaligus gabungan nama kedua induknya. Keberhasilan program pembiakan semi-alami di SRS ini membuktikan bahwa dengan dedikasi dan perlindungan yang ketat, badak Sumatera masih memiliki peluang untuk pulih. Kelahiran Andatu bukan hanya tentang satu individu baru, melainkan tentang bukti bahwa sains dan konservasi dapat bekerja bersama melawan kepunahan.
Indonesia sebagai Benteng Terakhir Badak Dunia
Indonesia memegang tanggung jawab besar sebagai rumah bagi dua spesies badak paling terancam di dunia: Badak Sumatera dan Badak Jawa. Jika Badak Sumatera masih ditemukan di beberapa kantong habitat, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) hanya tersisa di satu lokasi saja, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon dengan populasi sekitar 50-70 ekor.
Membandingkan dengan spesies Afrika, badak putih dan badak hitam memang memiliki populasi yang lebih besar, namun mereka tetap menghadapi ancaman perburuan yang sama masifnya. Badak India di Nepal dan India juga mulai menunjukkan pemulihan berkat perlindungan militer yang sangat ketat. Strategi ini menekankan satu hal: perlindungan habitat dan penegakan hukum terhadap pemburu adalah kunci utama.
Kesimpulan: Menjaga Warisan Masa Lalu untuk Masa Depan
Kemunculan kembali badak di Leuser adalah sebuah pesan dari alam bahwa harapan itu masih ada. Namun, harapan saja tidak cukup. Dibutuhkan komitmen kuat dari pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat luas untuk menjaga hutan Leuser agar tetap menjadi rumah yang aman.
Kita tidak boleh membiarkan badak Sumatera hanya menjadi cerita dalam buku sejarah atau gambar di atas kertas. Mereka adalah bagian penting dari ekosistem hutan kita, penyebar benih yang andal, dan salah satu mahakarya evolusi yang masih tersisa di bumi. Menyelamatkan badak Sumatera berarti menyelamatkan identitas kekayaan alam Indonesia.
Daftar Pustaka & Referensi
- Tempo.co. (2012). Badak Leuser Bangkit Kembali. [
]http://www.tempo.co/read/news/2012/08/09/206422304/Badak-Leuser-Bangkit-Kembali - Yayasan Leuser International. Laporan Pemantauan Camera Trap Badak Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser.
- IUCN Red List. Species Profile: Dicerorhinus sumatrensis.
- World Wildlife Fund (WWF) Indonesia. Status dan Tren Populasi Badak Sumatera di Way Kambas dan Leuser.
- CITES. International Trade in Rhino Horn: Market Analysis and Illegal Trade Trends.
- Yayasan Badak Indonesia (YABI). Laporan Kelahiran Andatu di Suaka Rhino Sumatera.



