
Terakhir Diperbarui 3 Februari 2026 | Waktu baca: 10 menit
Bayangkan skenario ini: Anda sedang berjalan-jangan santai di trotoar kota yang sibuk. Tiba-tiba, seorang pria berlari cepat melewati Anda. Namun, alih-alih berbelok mengikuti alur jalan, ia melompat seperti kucing melewati pagar pembatas, berlari menaiki dinding vertikal setinggi dua meter, dan menghilang dengan anggun di balik atap bangunan.
Reaksi pertama Anda mungkin adalah mencari kamera film di sekitar lokasi, mengira itu adalah efek spesial atau aksi stuntman Spiderman. Namun, kenyataannya jauh lebih membumi. Kecepatan yang efisien, lompatan yang seolah melawan gravitasi, dan ketangkasan luar biasa tersebut adalah bagian dari disiplin fisik dan seni gerak yang disebut Parkour.
Parkour telah berkembang dari sekadar latihan militer menjadi fenomena budaya global. Ia bukan hanya tentang melakukan lompatan berbahaya, melainkan tentang filosofi mendalam mengenai cara manusia berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan dalam hidupnya.
Akar Sejarah: Dari Karibia Hingga Militer Perancis
Meskipun gerakan melompat dan memanjat sudah ada sejak awal peradaban manusia, akar modern Parkour dapat dirunut balik ke awal abad ke-20 melalui sosok George Hebert, seorang perwira Angkatan Laut Perancis.
Perjalanan Hebert dimulai saat ia ditempatkan di Pulau Martinique, Karibia. Di sana, ia mengamati penduduk pribumi yang memiliki kebugaran fisik luar biasa. Mereka bergerak di alam liar dengan kelincahan, kekuatan, dan ketangkasan yang alami, meskipun tidak pernah menjalani program latihan kebugaran formal di gym. Hebert sangat terkesan dengan cara mereka berinteraksi dengan lingkungan alam.
Hebert kemudian mengembangkan "Methode Naturelle" (Metode Alami). Ia menciptakan sistem latihan yang menggunakan rintangan yang terinspirasi oleh alam—seperti memanjat pohon, melompati parit, dan berlari di medan kasar. Teknik ini kemudian diadopsi menjadi standar pelatihan fisik militer Perancis yang dikenal sebagai parcours du combattant (lintasan rintangan prajurit). Inilah asal mula kata "Parkour".
Filosofi "Être fort pour être utile" (Menjadi Kuat Agar Berguna)
Bagi George Hebert, kekuatan fisik tanpa moralitas adalah sia-sia. Pengalamannya dalam usaha penyelamatan saat letusan gunung berapi Gunung Pelee di Martinique pada tahun 1902 memperkuat keyakinannya. Letusan dahsyat tersebut menelan ribuan korban jiwa, dan Hebert melihat bahwa kekuatan fisik yang terlatih sangat krusial untuk menolong orang lain dalam situasi darurat.
Ia kemudian mencetuskan motto: "Être fort pour être utile" atau "Menjadi kuat agar bisa berguna". Motto ini menjadi fondasi spiritual Parkour. Kekuatan bukan tujuan akhir; kekuatan adalah alat untuk membantu sesama. Parkour mengajarkan bahwa jika suatu saat terjadi keadaan darurat, Anda harus memiliki kemampuan fisik untuk mencapai titik bahaya secepat mungkin atau melarikan diri dari bahaya demi menyelamatkan diri dan orang lain.
Revolusi di Lisses: Kelahiran Parkour Modern
Meskipun Hebert meletakkan dasar metodologinya, Parkour modern seperti yang kita kenal sekarang baru benar-benar terbentuk di pinggiran kota Lisses, Perancis, pada tahun 1980-an. Sekelompok pemuda yang dipelopori oleh David Belle, Sebastien Foucan, Yann Hnautra, dan grup Yamakasi mulai memindahkan latihan Hebert dari hutan ke "hutan beton" perkotaan.
David Belle, yang ayahnya adalah seorang pemadam kebakaran terlatih militer, mengambil teknik-teknik ayahnya dan mengaplikasikannya pada bangunan, tangga, dan tembok kota. Di tangan kelompok ini, Parkour berevolusi dari latihan militer yang kaku menjadi ekspresi gerak yang cair dan kreatif. Mereka tidak lagi melihat tembok sebagai akhir dari sebuah jalan, melainkan sebagai "lantai vertikal" yang bisa dipanjat. Mereka melihat susuran tangga bukan sebagai pembatas, melainkan sebagai jalan pintas.
Mentalitas Traceur: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang
Praktisi Parkour menyebut diri mereka sebagai traceur (untuk laki-laki) atau traceuse (untuk perempuan). Menjadi seorang traceur berarti belajar berpikir secara berbeda. Parkour menuntut pemahaman mendalam tentang diri sendiri melalui tantangan fisik.
Pada intinya, Parkour adalah tentang efisiensi. Tujuannya adalah berpindah dari titik A ke titik B secepat dan seefisien mungkin hanya dengan menggunakan kemampuan tubuh. Dalam proses ini, traceur harus menaklukkan ketakutan mereka. Setiap lompatan adalah ujian terhadap kepercayaan diri dan perhitungan risiko.
Menariknya, perubahan cara berpikir ini sering kali terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari para praktisinya. Jika seorang traceur belajar bahwa tembok setinggi tiga meter bukanlah hambatan fisik yang mustahil, maka mereka juga mulai memandang masalah dalam pekerjaan atau kehidupan pribadi sebagai rintangan yang bisa dilalui dengan strategi dan latihan. Dunia menjadi tempat yang penuh dengan kemungkinan, bukan sekadar batasan.
Parkour vs Freerunning: Perbedaan yang Perlu Diketahui
Sering kali orang mencampuradukkan Parkour dengan Freerunning. Meski keduanya sangat mirip, ada perbedaan filosofis yang mendasar:
- Parkour: Berfokus pada efisiensi, kecepatan, dan kepraktisan. Gerakannya lugas dan bertujuan untuk melewati rintangan secepat mungkin (misal: untuk situasi darurat).
- Freerunning: Dipopulerkan oleh Sebastien Foucan, disiplin ini lebih mengutamakan estetika, ekspresi diri, dan akrobatik. Gerakan seperti salto atau flip yang tidak menambah kecepatan (hanya untuk keindahan) termasuk dalam kategori Freerunning.
Keamanan dan Persahabatan
Meskipun terlihat sangat berbahaya di video-video internet, Parkour yang sebenarnya adalah disiplin yang sangat terukur. Seorang traceur yang baik tidak akan mencoba lompatan besar tanpa ribuan kali latihan dasar di permukaan tanah yang aman.
Latihan Parkour juga sangat mengandalkan komunitas. Ada rasa persaudaraan yang kuat di antara para praktisinya. Mereka berlatih bersama, saling mengawasi keselamatan satu sama lain, dan berbagi teknik. Parkour mengajarkan bahwa pencapaian fisik tertinggi sering kali dicapai melalui ujian konstan terhadap diri sendiri, namun dilakukan dalam lingkungan yang suportif bersama teman dan keluarga.
Kesimpulan
Parkour adalah gambar nyata dari kemampuan adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Di dunia yang semakin kaku dengan kotak-kotak beton dan aturan ruang yang ketat, Parkour muncul sebagai bentuk kebebasan. Ia mengingatkan kita bahwa rintangan terbesar sering kali hanya ada di dalam pikiran kita.
Menjadi kuat agar berguna, menaklukkan ketakutan, dan melihat dunia sebagai tempat bermain tanpa batas adalah inti dari disiplin ini. Seperti yang dikatakan para pionirnya, Parkour adalah perjalanan untuk mengenal diri sendiri melalui setiap lompatan, setiap panjatan, dan setiap pendaratan.
Daftar Pustaka & Referensi
- Environmental Graffiti. Mind-Blowing Movement: The Art of Parkour. [
]http://www.environmentalgraffiti.com/outdoor/news-mind-blowing-movement - Parkour Generations. Being Strong, Being Useful: The Philosophy of George Hebert. [
]http://www.parkourgenerations.com/article/being-strong-being-useful - Parkour Generations. The Meaning of Strength in Movement. [
]http://www.parkourgenerations.com/article/meaning-strength - Belle, David. (2009). Parkour: The Journey of a Traceur.
- Wikipedia. Parkour: Origins, Philosophy, and Development. [
]http://en.wikipedia.org/wiki/Parkour
No comments:
Post a Comment
Hai, silakan tuliskan apapun terkait isi artikelnya ya. Terima kasih.