May 2012 - Picture of Our World

Nature│Outdoor│Travel│Art and Design│History│Science│Environmental│Technology│Nature | Trivia

Saturday, 26 May 2012

Rahasia Yareta: Gumpalan Hijau Purba dari Andes yang Hidup Hingga 3.000 Tahun

May 26, 2012 0

Gumpalan tanaman Yareta berwarna hijau terang yang menempel pada bebatuan di dataran tinggi Andes yang tandus

Terakhir Diperbarui 3 Februari 2026 | Waktu baca: 10 menit


Di tengah hamparan dataran tinggi Andes yang gersang, tandus, dan berangin kencang, terdapat sebuah fenomena alam yang sering membuat para penjelajah tertegun. Di antara bebatuan vulkanik yang tidak menyisakan ruang bagi kehidupan biasa, muncul gumpalan-gumpalan hijau terang yang masif. Dari kejauhan, ia tampak seperti tumpahan lumpur primordial atau koloni organisme dari planet lain. Namun, jangan salah sangka; ini adalah Yareta, salah satu organisme hidup tertua dan paling tangguh di muka bumi.

Yareta (Azorella compacta) bukan sekadar lumut atau jamur. Ia adalah tanaman berbunga yang telah berevolusi selama jutaan tahun untuk bertahan hidup di salah satu lingkungan paling keras di dunia: Puna yang tinggi di Peru, Chili, dan Bolivia.

Anatomi Sang Penjelajah Waktu: Lebih dari Sekadar Gumpalan

Secara taksonomi, Yareta termasuk dalam famili Apiaceae (atau Umbelliferae). Jika Anda terkejut, itu wajar; secara biologis, Yareta bersaudara dekat dengan wortel, peterseli, dan seledri yang biasa kita temui di dapur. Namun, alih-alih tumbuh tinggi dengan daun yang melambai, Yareta memilih strategi "bertahan hidup minimalis".

Tanaman ini tumbuh membentuk struktur bantal (cushion plant) yang sangat padat. Kepadatannya begitu ekstrem sehingga Anda bahkan bisa berdiri di atasnya tanpa merusak struktur internalnya (meskipun sangat tidak disarankan). Mengapa ia tumbuh begitu rapat?

  • Perlindungan dari Angin: Di ketinggian 3.000 hingga 5.000 meter, angin bisa menjadi sangat mematikan. Bentuk gumpalan padat ini meminimalisir luas permukaan yang terkena angin kencang.
  • Retensi Kelembapan: Udara di pegunungan sangat kering. Struktur rapat membantu tanaman menjaga kelembapan di bagian dalamnya.
  • Perangkap Panas: Ini adalah fitur paling menakjubkan. Yareta adalah kolektor surya alami.

Laboratorium Panas Alami di Tengah Dinginnya Andes

Salah satu rahasia terbesar Yareta terletak pada kemampuannya memanipulasi suhu. Di daerah Puna, suhu udara bisa turun drastis di bawah titik beku saat malam hari. Namun, Yareta memiliki sistem "insulasi" yang luar biasa. Berkat strukturnya yang menempel erat pada tanah dan bebatuan, ia mampu menangkap panas dari radiasi matahari di siang hari dan menyimpannya.

Penelitian menunjukkan bahwa temperatur udara di permukaan gumpalan Yareta bisa satu atau dua derajat Celcius lebih tinggi daripada suhu lingkungan sekitarnya. Bagi tanaman berukuran kecil di lingkungan ekstrem, perbedaan satu derajat bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati. Ia menciptakan iklim mikro sendiri, sebuah perlindungan hangat bagi dirinya sendiri di tengah dinginnya pegunungan.

Kecepatan Tumbuh yang Luar Biasa Lambat

Jika Anda menganggap kura-kura bergerak lambat, maka Yareta adalah definisi dari "kesabaran tak terbatas". Yareta tumbuh dengan kecepatan yang nyaris tidak terlihat: hanya sekitar 1,5 sentimeter per tahun.

Kecepatan tumbuh yang sangat lambat ini adalah konsekuensi dari lingkungan yang minim nutrisi dan suhu yang dingin. Karena tidak mampu membuang energi secara sia-sia, Yareta menginvestasikan seluruh sumber dayanya untuk memperkuat struktur dan daya tahan. Hasilnya? Gumpalan hijau yang Anda lihat hari ini mungkin sudah ada di sana sejak zaman Kekaisaran Romawi atau era kejayaan peradaban kuno lainnya. Banyak spesimen Yareta yang ditemukan saat ini diperkirakan berusia lebih dari 3.000 tahun. Berdiri di hadapan Yareta berarti Anda sedang berdiri di hadapan saksi bisu sejarah bumi.

Habitat: Di Mana Bumi Bertemu Langit

Yareta hanya ditemukan di dataran tinggi pegunungan Andes di wilayah Peru, Bolivia, Chili utara, dan Argentina barat laut. Wilayah ini dikenal dengan sebutan Altiplano atau Puna. Tanaman ini tumbuh di lereng berbatu dan tanah berpasir yang kering.

Di tempat ini, intensitas sinar ultraviolet (UV) sangat tinggi, namun Yareta memiliki "tabir surya" alami dalam bentuk lapisan lilin dan resin yang tebal pada daun-daun kecilnya yang padat. Resin ini jugalah yang memberikan aroma khas pada tanaman ini saat didekati.

Ancaman dari Manusia: Masa Lalu yang Kelam

Sayangnya, ketangguhan Yareta terhadap alam tidak sebanding dengan ketangguhannya terhadap aktivitas manusia. Karena kandungan resinnya yang tinggi, Yareta sangat mudah terbakar dan memiliki nilai kalori yang tinggi sebagai bahan bakar. Selama berabad-abad, penduduk lokal dan perusahaan pertambangan di Andes menggunakan Yareta sebagai kayu bakar atau bahan bakar lokomotif uap.

Mengingat pertumbuhannya yang sangat lambat, eksploitasi berlebihan di masa lalu telah menyebabkan populasi Yareta menyusut drastis. Sebuah tanaman yang butuh 3.000 tahun untuk tumbuh bisa habis terbakar hanya dalam hitungan menit di dalam tungku pemanas. Saat ini, Yareta telah dilindungi oleh hukum di berbagai negara tempat ia tumbuh, dan pemanfaatannya dilarang keras untuk menjaga agar spesies purba ini tidak lenyap dari muka bumi.

Filosofi Kehidupan dari Yareta

Ada pelajaran mendalam yang bisa kita ambil dari tanaman "alien" ini. Yareta mengajarkan kita bahwa dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan sekalipun, kehidupan selalu menemukan cara. Ia tidak mencoba melawan lingkungan, melainkan beradaptasi dengan cara yang paling efisien: tumbuh rendah, tetap rapat, dan bersabar.

Keberadaannya di blog Picture of Our World mengingatkan kita bahwa dunia ini penuh dengan keajaiban yang tidak harus berukuran raksasa atau bergerak cepat untuk menjadi hebat. Terkadang, keajaiban terbesar adalah kemampuan untuk bertahan tetap hidup dan tetap hijau di tengah tandusnya kehidupan selama ribuan tahun.


Daftar Pustaka & Referensi

  1. Environmental Graffiti. Yareta: The Alien-Looking Plant of the Andes. [http://www.environmentalgraffiti.com/news-yareta]
  2. Kalin Arroyo, M. T., et al. (2003). Cushion Plants: Evolution and Adaptation to High Altitude. University of Chile Press.
  3. National Geographic. The Oldest Living Things in the World: The 3,000-Year-Old Yareta.
  4. Botanical Journal of the Linnean Society. Azorella compacta: Morphology and Ecology of a High-Andean Specialist.
  5. Smithsonian Magazine. The Rare and Ancient Yareta Plants of the Atacama Desert.

Saturday, 19 May 2012

Butterbur: Tanaman Payung Rawa Unik dengan Sejarah Pengobatan Migrain yang Panjang

May 19, 2012 0

Tanaman Butterbur dengan daun lebar berbentuk hati yang tumbuh di area rawa yang lembap

Terakhir Diperbarui 3 Februari 2026 | Waktu baca: 10 menit


Alam sering kali menyembunyikan keajaibannya di tempat-tempat yang paling tidak terduga, seperti di tepian sungai yang berlumpur atau rawa-rawa yang lembap. Salah satu penghuni area basah yang paling mencolok namun sering disalahpahami adalah Butterbur (Petasites hybridus). Dikenal dengan daunnya yang luar biasa lebar menyerupai payung, tanaman ini telah menempuh perjalanan panjang dari sekadar tanaman liar di pinggiran air menjadi subjek penelitian medis modern yang intens.

Bagi para pecinta botani dan praktisi pengobatan alami, Butterbur adalah tanaman serbaguna. Namun, di balik penampilannya yang unik, tersimpan kompleksitas kimiawi yang menuntut pemahaman mendalam sebelum kita memanfaatkannya.

Deskripsi Botani: Keindahan Awal Musim Semi

Butterbur adalah tanaman menahun (perennial) yang memiliki siklus hidup yang unik. Di awal musim semi, sebelum daun-daunnya muncul, batang Butterbur mulai menumbuhkan bunga-bunga kecil berwarna kemerahan atau merah muda yang tersusun rapat. Pemandangan ini sering kali menjadi penanda pertama bahwa musim dingin telah berakhir.

Setelah bunga mulai memudar, barulah daunnya muncul. Daun ini berbentuk hati yang lebar dan dapat tumbuh hingga ukuran yang masif. Bagian bawah daunnya ditutupi oleh bulu-bulu halus yang memberikan tekstur lembut seperti beludru. Karena ukurannya yang besar, masyarakat zaman dahulu sering menggunakan daun ini sebagai payung darurat atau bahkan sebagai pembungkus mentega agar tetap dingin saat dibawa ke pasar—dari sinilah nama "Butterbur" (bur mentega) berasal.

Ragam Nama: Cermin Imajinasi Masyarakat

Butterbur memiliki daftar nama panggilan yang sangat panjang, yang menunjukkan betapa akrabnya tanaman ini dengan kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia. Nama-nama tersebut antara lain:

  • Bog Rhubarb: Karena kemiripan bentuk daunnya dengan tanaman rhubarb dan habitatnya di tanah rawa (bog).
  • Bogshorns, Langwort, dan Daun Payung: Merujuk pada bentuk fisik daunnya yang masif.
  • Berbagai variasi "Dock": Seperti blatterdock, butter-dock, butterly dock, capdockin, dan flapperdock.

Meskipun secara visual menarik, satu hal yang perlu diingat adalah aromanya. Butterbur memiliki aroma khas yang cenderung tidak menyenangkan, sebuah mekanisme alami yang mungkin digunakan untuk menjauhkan hewan pemakan tumbuhan.

Habitat dan Sifat Invasif

Butterbur secara alami tumbuh di tanah rawa, dekat sungai, atau selokan yang memiliki kelembapan tinggi. Wilayah asalnya meliputi Asia Utara, Eropa, dan beberapa bagian Amerika Utara. Kehadirannya di tanah basah ini menjadikannya bagian penting dari ekosistem lahan basah, membantu menstabilkan tanah di pinggiran air.

Namun, di beberapa wilayah di luar habitat aslinya, Butterbur sering kali dilabeli sebagai spesies invasif. Berkat rimpang atau rhizoma bawah tanahnya yang kuat, tanaman ini mampu menyebar dengan sangat cepat dan mendominasi area tersebut, sering kali menyingkirkan spesies tanaman lokal lainnya. Hal ini menjadikannya tanaman yang dicintai sekaligus diwaspadai oleh para ahli konservasi.

Jejak Sejarah dalam Pengobatan Tradisional

Dalam catatan sejarah herblore dan obat alami, Butterbur telah digunakan selama berabad-abad. Masyarakat tradisional memanfaatkannya untuk berbagai keperluan:

  1. Luka Luar: Daunnya digunakan secara eksternal sebagai kompres untuk menutupi kulit yang terluka atau mengalami ulserasi (borok).
  2. Masalah Pernapasan: Sediaan Butterbur sering diminum untuk mengatasi keluhan asma, batuk rejan, dan radang tenggorokan.
  3. Anti-spasmodik: Dalam perspektif medis modern, penggunaan tradisional ini merujuk pada sifat anti-spasmodik tanaman, yaitu kemampuannya untuk melemaskan otot-otot yang tegang.

Sains Modern: Migrain dan Alergi

Riset medis kontemporer telah mengalihkan fokus pada potensi Butterbur dalam mengatasi dua kondisi spesifik: migrain dan rhinitis alergi.

  • Pencegahan Migrain: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak akar Butterbur dapat membantu mengurangi frekuensi dan intensitas serangan migrain. Senyawa aktif seperti petasin dan isopetasin diyakini bekerja dengan cara mengurangi peradangan dan merelaksasi pembuluh darah di otak.
  • Rhinitis Alergi (Hay Fever): Butterbur telah diuji sebagai alternatif alami untuk antihistamin dalam mengatasi gejala alergi seperti bersin-bersin dan hidung gatal. Kelebihannya, Butterbur tidak menyebabkan kantuk seperti banyak obat alergi konvensional.

Namun, meski memberikan harapan besar, para peneliti menemukan bahwa Butterbur tidak efektif dalam menyembuhkan masalah kulit kronis seperti eksim, meskipun sejarah lamanya mengatakan sebaliknya.

Peringatan Keamanan: Pyrrolizidine Alkaloid (PA)

Inilah bagian yang paling krusial bagi setiap orang yang ingin mencoba Butterbur. Tanaman ini secara alami mengandung senyawa bernama pyrrolizidine alkaloids (PA). Senyawa ini dikenal bersifat hepatotoksik, yang berarti dapat menyebabkan kerusakan hati yang serius jika terakumulasi dalam tubuh. Selain itu, PA juga bersifat karsinogenik (memicu kanker).

Oleh karena itu, siapa pun yang mempertimbangkan untuk menggunakan obat herba berbasis Butterbur WAJIB memastikan bahwa produk tersebut berlabel "PA-free". Ini berarti produsen telah melakukan proses pemurnian untuk menghilangkan alkaloid berbahaya tersebut sehingga produk aman untuk dikonsumsi dalam jangka pendek sesuai dosis yang dianjurkan.

Cara Membiakkan Butterbur

Bagi Anda yang memiliki lahan basah di halaman rumah dan ingin menanam Butterbur sebagai elemen dekoratif, tanaman ini tumbuh dengan baik di lahan dengan zona kekerasan 5 hingga 9. Berikut adalah beberapa tips budidayanya:

  • Penanaman: Butterbur sebaiknya ditanam di lahan yang luas karena ukurannya yang besar. Berikan jarak antar tanaman sekitar 1,8 meter.
  • Propagasi: Cara termudah adalah dengan memotong bagian rhizoma (rimpang) dan menanamnya kembali di tanah yang lembap.
  • Kontrol: Selalu ingat bahwa tanaman ini bersifat invasif. Sangat disarankan untuk menanamnya dalam wadah besar yang terkubur atau memberikan pembatas di bawah tanah agar akarnya tidak merambat ke seluruh area kebun Anda.

Kesimpulan: Menghargai Keragaman Alam

Herbalis, pecinta alam, dan mahasiswa botani memiliki banyak alasan untuk menghargai Butterbur. Ia adalah bukti betapa dinamisnya dunia tanaman—sebuah organisme yang bisa menjadi gulma invasif di satu sisi, namun menjadi penyelamat bagi penderita migrain di sisi lain. Melalui pemahaman yang tepat tentang biologi dan keamanan kimianya, kita dapat terus mengapresiasi keindahan "si payung rawa" ini sambil tetap menjaga kesehatan kita.


Daftar Pustaka & Daftar Acuan

  1. Environmental Graffiti. Butterbur: A Versatile Plant with Many Nicknames. [http://www.environmentalgraffiti.com/plants/news-butterbur-versatile-plant-many-nicknames]
  2. EBSCO and NYU Langone Medical Center. (2011). Butterbur: Comprehensive Review.
  3. Rhodes, M. (2009). Butterbur (Petasites hybridus) for migraine headaches. Health Wise.
  4. Ehrlich, S. D. (2009). Allergic Rhinitis and Complementary Therapies. University of Maryland Medical Center.
  5. Michigan State University Extension. (1999). Petasites hybridus – Hybrid Butterbur Management.


Sangkalan: Informasi yang terkandung dalam artikel ini disediakan untuk tujuan edukasi saja dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti diagnosis atau perawatan dari profesional kesehatan. Selalu hubungi dokter atau ahli medis sebelum memulai suplemen herba apa pun, terutama untuk memastikan keamanan penggunaan produk yang bebas PA.

Saturday, 5 May 2012

Keajaiban Biru Selandia Baru: Mengenal Entoloma Hochstetteri, Jamur Cantik dari Dunia Peri

May 05, 2012 0

Jamur Entoloma hochstetteri berwarna biru cerah tumbuh di tengah lumut hutan Selandia Baru yang lembap

Terakhir Diperbarui 3 Februari 2026 | Waktu baca: 10 menit


Alam semesta tidak pernah berhenti memberikan kejutan. Seringkali, saat kita berpikir telah melihat semua palet warna yang bisa ditawarkan oleh bumi, muncul sesuatu yang membuat kita terperangah. Di tengah lebatnya hutan hujan Selandia Baru, di antara hamparan lumut hijau dan pakis yang lembap, muncul sebuah fenomena visual yang seakan-akan keluar dari buku cerita fantasi. Namanya mungkin terdengar kaku secara ilmiah: Entoloma hochstetteri. Namun, bagi siapa pun yang melihatnya, jamur ini lebih pantas disebut sebagai "jamur Smurf" atau jamur milik para peri.

Warna biru elektriknya yang begitu cerah dan mencolok seolah-olah menantang kegelapan dasar hutan. Ia adalah pengingat bahwa keindahan dunia seringkali tersembunyi dalam detail-detail kecil yang menunggu untuk ditemukan.

Siapa Sebenarnya Entoloma Hochstetteri?

Entoloma hochstetteri adalah spesies jamur yang ditemukan di Selandia Baru dan sebagian kecil wilayah di India. Nama spesifiknya, "hochstetteri", diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada penjelajah dan geolog asal Jerman-Austria, Christian Gottlieb Ferdinand von Hochstetter, yang melakukan penelitian ekstensif di Selandia Baru pada abad ke-19.

Jamur ini memiliki tudung berbentuk kerucut yang elegan, biasanya berdiameter sekitar 4 sentimeter. Seluruh bagian tubuh buahnya—mulai dari tudung, batang (stipe), hingga insang di bagian bawah—memiliki warna biru elektrik yang seragam. Ini adalah karakteristik yang sangat langka di dunia jamur, di mana warna biru biasanya hanya muncul sebagai bercak atau memudar saat jamur menua.

Rahasia di Balik Warna Biru Elektrik

Pertanyaan yang paling sering muncul saat seseorang melihat foto jamur ini adalah: "Apakah warnanya asli?" Jawabannya adalah ya, seratus persen alami. Warna biru yang memukau ini berasal dari pigmen yang disebut azulene.

Azulene adalah pigmen organik yang juga ditemukan pada minyak kayu guaiac dan beberapa spesies karang atau hewan laut. Menariknya, warna biru pada Entoloma hochstetteri jauh lebih dalam dan intens dibandingkan dengan spesies jamur biru lainnya, seperti Lactarius indigo dari Amerika. Pigmen ini tidak hanya memberikan warna pada permukaannya, tetapi meresap hingga ke dalam jaringan jamur tersebut.

Bagi para ilmuwan, keberadaan pigmen ini masih menjadi teka-teki evolusi. Mengapa sebuah jamur kecil di dasar hutan harus memiliki warna yang begitu mencolok? Apakah itu untuk menarik serangga penyebar spora, ataukah sebagai sinyal peringatan bagi predator? Hingga saat ini, alam masih menyimpan jawaban pastinya dengan rapat.

Ikon Budaya Selandia Baru

Keunikan Entoloma hochstetteri tidak hanya diakui oleh para ahli botani, tetapi juga oleh masyarakat umum Selandia Baru. Jamur ini telah diangkat menjadi salah satu simbol identitas alam negara tersebut.

Pada tahun 1990, Bank Sentral Selandia Baru merilis uang kertas 50 dollar yang menampilkan jamur biru ini di bagian belakangnya, bersandingan dengan burung Kokako yang juga memiliki pial berwarna biru. Kehadiran jamur dalam mata uang resmi adalah hal yang sangat jarang terjadi di dunia, menunjukkan betapa berharganya spesies ini bagi warisan alam Selandia Baru.

Selain itu, pada tahun 2002, pemerintah Selandia Baru juga mengeluarkan serangkaian prangko yang menampilkan enam jamur asli pilihan, dan tentu saja, si jamur biru ini menjadi primadona utamanya. Hal ini mempertegas posisi Entoloma hochstetteri sebagai "selebriti" di kerajaan fungi.

Habitat: Tempat Para Peri Bermain

Jika Anda ingin bertemu langsung dengan jamur ini, Anda harus menelusuri hutan-hutan di Pulau Utara dan Pulau Selatan Selandia Baru. Habitat favorit mereka adalah area yang kaya akan tanaman pakis dan lumut yang tebal. Kombinasi antara warna hijau lumut yang gelap dengan biru elektrik dari jamur ini menciptakan kontras visual yang luar biasa—sebuah pemandangan yang membuat kita membayangkan para Smurf sedang menggunakan jamur ini sebagai tempat berteduh atau peri-peri yang sedang menari di sekelilingnya.

Jamur ini biasanya muncul secara soliter atau dalam kelompok kecil setelah hujan lebat. Karena ukurannya yang kecil, menemukannya membutuhkan kejelian mata dan kesabaran seorang penjelajah sejati.

Misteri Racun: Cantik Namun Mematikan?

Ada sebuah aturan umum yang sering berlaku di alam liar: warna yang terlalu mencolok seringkali merupakan peringatan akan bahaya. Namun, bagaimana dengan Entoloma hochstetteri?

Hingga saat ini, belum ada penelitian medis yang secara meyakinkan menyatakan apakah jamur ini beracun atau dapat dimakan. Banyak anggota lain dari genus Entoloma yang diketahui mengandung racun berbahaya bagi manusia. Oleh karena itu, para ahli sangat tidak menyarankan siapa pun untuk mencoba mencicipi jamur ini.

Meski penampilannya sangat menggoda dan terlihat seperti permen dari dunia fantasi, biarkanlah keindahannya hanya dinikmati melalui lensa kamera. Membiarkannya tetap tumbuh di habitat aslinya adalah cara terbaik untuk menghargai keajaiban ini.

Peran Fungi dalam Ekosistem Hutan

Melihat Entoloma hochstetteri memberikan kita kesempatan untuk merenungkan peran penting jamur dalam ekosistem. Tanpa jamur, hutan akan dipenuhi oleh tumpukan kayu mati dan serasah daun. Jamur adalah pendaur ulang hebat di alam; mereka memecah bahan organik kompleks menjadi nutrisi yang dapat diserap kembali oleh tanaman lain.

Jamur biru ini adalah bagian dari jaringan kehidupan yang kompleks tersebut. Meskipun kecil, keberadaannya menandakan kesehatan ekosistem hutan yang lembap dan stabil. Keberadaannya di Selandia Baru juga menjadi bukti pentingnya pelestarian hutan hujan asli dari ancaman perubahan iklim dan invasi spesies asing.

Hubungan Antara Manusia, Seni, dan Alam

Bagi para fotografer dan seniman, jamur seperti ini adalah subjek yang tak ada habisnya. Dalam blog Picture of Our World, potret jamur biru ini berfungsi sebagai pengingat bahwa kita hidup di planet yang penuh dengan detail artistik. Alam tidak hanya bekerja berdasarkan fungsi biologis, tetapi juga tampak seperti memiliki selera seni yang tinggi.

Melihat jamur biru elektrik ini membuat kita bertanya-tanya, berapa banyak lagi keajaiban serupa yang masih tersembunyi di sudut-sudut bumi yang belum terjamah? Berapa banyak "jamur peri" lain yang sedang menunggu untuk ditemukan?

Kesimpulan

Entoloma hochstetteri bukan sekadar jamur; ia adalah simbol dari imajinasi alam yang tanpa batas. Dari pigmen azulene-nya yang misterius hingga kehadirannya di mata uang negara, jamur biru ini telah memikat hati banyak orang. Ia mengajari kita untuk melihat lebih dekat, merunduk di antara lumut, dan menghargai keindahan yang tidak membutuhkan ukuran besar untuk menjadi spektakuler.

Jika suatu hari Anda beruntung bisa berdiri di tengah hutan Selandia Baru dan melihat pendar biru di antara hijaunya pakis, ambillah foto, simpanlah kenangannya, namun biarkanlah ia tetap menjadi milik hutan. Karena di sanalah, di dunianya yang mungil, ia akan terus menjadi legenda biru yang hidup.


Daftar Pustaka & Daftar Acuan

  1. Environmental Graffiti. The Electric Blue Mushroom of New Zealand. [http://www.environmentalgraffiti.com/plants/news-electric-blue-mushroom-new-zealand]

  2. Manaaki Whenua – Landcare Research. Entoloma hochstetteri: The Blue Mushroom.

  3. Reserve Bank of New Zealand. History of the $50 Banknote: Flora and Fauna Series.

  4. New Zealand Post. Fungi Stamp Collection 2002: Native Species Highlights.

  5. Journal of Fungal Biology. The Chemistry of Azulene Pigments in the Entolomataceae Family.