
Terakhir Diperbarui 31 Januari 2026 | Waktu baca: 11 menit
Di perbukitan Menoreh, tidak jauh dari kemegahan Candi Borobudur, sebuah struktur aneh mencuat dari balik rimbunnya pepohonan. Orang-orang menyebutnya "Gereja Ayam". Namun, jika Anda bertanya kepada sang arsitek sekaligus pemiliknya, Daniel Alamsjah, ia akan mengoreksi dua hal: bangunan itu bukan gereja, dan bentuknya sama sekali bukan ayam.
Gereja Ayam adalah salah satu anomali arsitektur paling terkenal di Indonesia yang telah memikat media internasional seperti Daily Mail dan Huffington Post. Di balik popularitasnya sebagai tempat swafoto yang estetis, tersimpan kisah tentang iman, visi supranatural, dan keteguhan hati seorang pria yang membangun mimpinya selama puluhan tahun.
Sebuah Mimpi di Tahun 1988
Kisah Bukit Rhema tidak dimulai dari cetak biru arsitek ternama, melainkan dari sebuah pengalaman spiritual. Pada tahun 1988, Daniel Alamsjah—seorang pria yang saat itu bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta—mendapatkan sebuah visi melalui mimpinya.
Dalam mimpi tersebut, Daniel melihat dirinya sedang berdoa di atas sebuah bukit yang terasing. Ia mendapatkan pesan untuk membangun sebuah Rumah Doa bagi segala bangsa. Yang unik, rumah doa tersebut harus berbentuk seekor burung merpati yang sedang hinggap di tanah, sebagai simbol perdamaian dan Roh Kudus.
Banyak orang mungkin akan mengabaikan mimpi seperti itu sebagai bunga tidur semata. Namun bagi Daniel, itu adalah sebuah penugasan. Ia mulai mencari bukit yang ia lihat di mimpinya di berbagai wilayah Jawa Tengah, hingga suatu hari perjalanannya membawanya ke Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang. Saat melihat Bukit Rhema, Daniel langsung mengenalinya: itulah bukit yang ada di mimpinya.
Pembangunan yang Menantang Logika
Membangun struktur sebesar itu di atas bukit yang saat itu belum memiliki akses jalan memadai adalah sebuah kegilaan finansial dan logistik. Pada tahun 1992, Daniel berhasil membeli lahan seluas 3.000 meter persegi dengan harga yang relatif murah karena tanah tersebut dianggap keramat oleh warga setempat.
Pembangunan dimulai dengan sumber daya yang terbatas. Struktur utama dibuat dengan rangka beton dan batu bata. Daniel tidak menggunakan jasa kontraktor besar; ia memberdayakan warga sekitar untuk mengerjakan bangunan tersebut.
Anatomi Burung Merpati (Yang Sering Salah Sangka)
Banyak orang menyebutnya "Gereja Ayam" karena adanya struktur di bagian kepala yang menyerupai jengger ayam. Padahal, secara teknis, itu adalah mahkota burung merpati yang terdiri dari beberapa pilar. Bangunan ini dirancang memiliki beberapa bagian utama:
Bagian Kepala: Berfungsi sebagai tempat melihat pemandangan (gardu pandang) yang menghadap langsung ke arah Candi Borobudur dan Gunung Merapi/Merbabu.
Bagian Badan: Sebuah aula luas tanpa pilar yang digunakan sebagai tempat ibadah bersama atau pertemuan.
Bagian Bawah Tanah: Terdiri dari 12 kamar doa kecil yang sunyi, dirancang untuk meditasi pribadi bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang agama.
Masa Kelam: Penghentian dan Rumor Mistis
Pada tahun 2000, krisis ekonomi dan kendala biaya memaksa Daniel untuk menghentikan pembangunan. Proyek tersebut terbengkalai selama bertahun-tahun. Beton-beton bangunan mulai tertutup lumut, semak belukar merayap ke dinding, dan vandalisme mulai merusak estetika bangunan.
Di sinilah legenda urban "Gereja Ayam" mulai berkembang. Karena bentuknya yang aneh dan lokasinya yang tersembunyi, banyak rumor beredar bahwa tempat itu digunakan sebagai tempat pemujaan atau pusat rehabilitasi misterius. Kenyataannya, Daniel memang sempat menggunakan sebagian area bangunan untuk membantu rehabilitasi pecandu narkoba dan penyandang gangguan jiwa, namun keterbatasan fasilitas membuat kegiatan tersebut tidak bertahan lama.
Selama hampir 15 tahun, Bukit Rhema berdiri seperti raksasa tidur yang terlupakan, hingga akhirnya internet mengubah segalanya.
Ledakan Viral dan Kebangkitan Kembali
Transformasi Bukit Rhema dari reruntuhan misterius menjadi ikon wisata dunia dipicu oleh dua hal: kekuatan media sosial dan film "Ada Apa Dengan Cinta? 2" (AADC 2) pada tahun 2016. Penampilan bangunan ini dalam salah satu adegan kunci film tersebut membuatnya dicari oleh ribuan pelancong.
Melihat antusiasme publik, Daniel Alamsjah kembali melanjutkan visi pembangunannya. Kini, Bukit Rhema bukan lagi gedung kosong yang menyeramkan. Bangunan tersebut telah dipugar dengan indah, lantai-lantainya dipasang keramik, dan dinding-dindingnya dihiasi narasi mengenai sejarah pembangunannya.
Simbol Toleransi yang Nyata
Salah satu sisi paling menyentuh dari Bukit Rhema adalah fungsinya sebagai Rumah Doa Bagi Segala Bangsa. Daniel sangat menekankan bahwa tempat ini terbuka untuk siapa saja. Di ruang bawah tanah, kamar-kamar doa didesain dengan suasana yang inklusif. Di sini, pengunjung Muslim, Kristen, Hindu, Budha, maupun aliran kepercayaan lainnya diizinkan untuk berdoa menurut keyakinan masing-masing di dalam kesunyian bukit.
Kedai Rakyat Merpati Putih: Sisi Kuliner Bukit Rhema
Bagi pengunjung masa kini, pengalaman di Gereja Ayam tidak hanya soal arsitektur dan doa. Di bagian ekor burung merpati, kini terdapat Kedai Rakyat Merpati Putih. Pengunjung dapat menikmati camilan tradisional seperti singkong goreng (Cassava) yang lezat sambil menatap hamparan hijau lembah Magelang.
Satu hal yang tidak pernah berubah adalah pandangan dari mahkota burung merpati. Saat matahari terbit, Anda bisa melihat Candi Borobudur menyembul di tengah kabut pagi, sebuah pemandangan yang membuat Daniel Alamsjah yakin bahwa perjuangannya selama 30 tahun lebih tidak sia-sia.
Kesimpulan: Pelajaran tentang Ketekunan
Gereja Ayam Magelang mengajarkan kita bahwa sebuah visi, betapa pun anehnya di mata dunia, memiliki kekuatan untuk mengubah sebuah bukit terpencil menjadi pusat inspirasi global. Daniel Alamsjah tidak membangun sebuah gedung; ia membangun sebuah monumen tentang iman dan keberagaman.
Bukit Rhema membuktikan bahwa ketika kita memiliki tujuan yang murni—dalam hal ini, menciptakan ruang damai bagi semua orang—alam dan waktu akan bekerja sama untuk mewujudkannya. Sempurna!
Daftar Pustaka & Referensi
Alamsjah, Daniel. (2024). Wawancara Resmi: Sejarah dan Visi Rumah Doa Bukit Rhema. Dokumentasi Internal Bukit Rhema.
Daily Mail UK. (2015). The Chicken Church of Indonesia: Mysterious abandoned prayer house in the jungle. [Online Resource].
Kemenparekraf RI. (2025). Destinasi Wisata Unggulan Jawa Tengah: Bukit Rhema Magelang.
National Geographic Indonesia. (2016). Mengenal Daniel Alamsjah, Sosok di Balik Gereja Ayam.
Tim AADC 2. (2016). Behind the Scenes: Pemilihan Lokasi di Magelang. Miles Films.




