February 2026 - Picture of Our World

Nature│Outdoor│Travel│Art and Design│History│Science│Environmental│Technology│Nature | Trivia

Friday, 6 February 2026

Menelusuri Kehidupan Bajau: Gipsi Laut Borneo yang Memiliki Kemampuan Super di Dalam Air

February 06, 2026 0
Terakhir Diperbarui 31 Januari 2026 | Waktu baca: 10 menit

Pernahkah Anda membayangkan sebuah peradaban yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas air? Bukan di daratan yang kokoh, melainkan di gugusan rumah panggung yang berdiri di atas terumbu karang terjauh. Selamat datang di dunia Suku Bajau, sebuah kelompok etnis nomaden laut yang sering disebut sebagai "Gipsi Laut".

Fotografer Adam Docker menggambarkan kesan pertamanya saat mengunjungi desa Bajau di dekat Semporna, Sabah, Malaysia: "Rasanya seperti Anda baru saja tiba di sebuah suku yang lama hilang, yang hanya pernah terlihat di dokumentasi Planet Earth atau dibaca dalam buku Jules Verne." Di tengah air laut berwarna pirus yang jernih dan terumbu karang yang berkilauan, Suku Bajau telah mengukir sejarah unik yang menantang batas fisik manusia.


Jantung Dunia: Segitiga Terumbu Karang

Rumah Suku Bajau berada di lokasi yang secara ekologis sangat berharga: Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle). Wilayah ini mencakup perairan antara Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste.

Dikenal sebagai "Amazon-nya Lautan", wilayah ini merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Lebih dari 120 juta orang menggantungkan hidup pada ekosistem ini, termasuk Suku Bajau yang mengandalkan laut bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga sebagai sumber penghasilan utama.

Adaptasi Fisik: Manusia dengan Kemampuan "Super"

Apa yang membuat Suku Bajau begitu istimewa dibandingkan manusia darat lainnya? Jawabannya terletak pada adaptasi fisik mereka yang luar biasa terhadap lingkungan air.

1. Penyelam Bebas yang Tangguh

Para pria Bajau dikenal karena kemampuan free-diving (menyelam tanpa alat bantu) yang menakjubkan. Mereka mampu menahan napas selama lima menit dan menyelam hingga kedalaman 20 meter (66 kaki) secara rutin. Kemampuan ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil latihan yang dimulai sejak usia dini.

2. Evolusi Penglihatan Bawah Air

Tumbuh besar di laut memberikan mereka keunggulan biologis yang langka. Mata anak-anak Bajau beradaptasi untuk melihat di bawah air dua kali lebih baik daripada rata-rata manusia. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat dan menargetkan ikan-ikan yang bergerak cepat dengan akurasi tinggi di dasar laut.

3. Rahasia Organ Spleen (Limpa)

Studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa Suku Bajau secara genetik memiliki limpa yang lebih besar—hingga 50% lebih besar dari manusia darat. Limpa yang besar berfungsi sebagai "tabung oksigen alami" yang melepaskan lebih banyak sel darah merah ke dalam aliran darah saat menyelam, memungkinkan oksigen bertahan lebih lama.

Catatan Risiko: Meskipun tangguh, gaya hidup ini memiliki konsekuensi fisik. Banyak orang Bajau mengalami pecah gendang telinga (terkadang dilakukan secara sengaja) di usia muda agar bisa menyelam lebih dalam tanpa rasa sakit akibat tekanan. Mereka juga tidak kebal terhadap risiko decompression sickness (penyakit dekompresi/the bends).


Asal-Usul dan Budaya yang Misterius

Hingga saat ini, belum ada yang tahu pasti dari mana Suku Bajau berasal. Ada beberapa teori utama:

  • Berasal dari Filipina atau Johor, Malaysia.
  • Berasal dari Kepulauan Riau, Indonesia.
  • Keturunan penjaga kerajaan Kesultanan Johor yang memutuskan untuk menetap di laut.

Meskipun asal-usulnya diperdebatkan, Suku Bajau telah menjalani kehidupan nomaden di laut selama berabad-abad. Mereka terbagi dalam berbagai sub-kelompok, seperti kelompok Ubian yang banyak ditemukan di negara bagian Sabah.

Dari sisi kepercayaan, mayoritas Suku Bajau menganut agama Islam Sunni, namun banyak yang masih menjalankan campuran antara ajaran Islam dan kepercayaan kuno (animisme). Mereka percaya pada roh laut atau "jinn" yang menghuni perairan tempat mereka tinggal.


Kehidupan Sehari-hari di Lepa-Lepa

Sekelompok orang suku Bajau menggunakan perahu lepa-lepa di perairan jernih Semporna, Sabah

Bagi Suku Bajau, perahu bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari identitas. Perahu tradisional mereka disebut Lepa-lepa. Dari satu rumah panggung ke rumah lainnya, anak-anak dan orang dewasa bergerak lincah menggunakan sampan-sampan kecil ini.

Diet mereka sangat sederhana namun sehat: ikan segar, tapioka, dan pisang. Menariknya, tapioka juga digunakan sebagai sunscreen atau tabir surya alami. Para wanita Bajau sering menutupi wajah mereka dengan bedak dingin berwarna putih yang terbuat dari campuran tapioka, air, dan daun yang dihaluskan untuk melindungi kulit mereka dari sengatan matahari tropis yang ganas.


Tantangan di Era Modern: Antara Tradisi dan Diskriminasi

Sayangnya, kehidupan Suku Bajau tidak selamanya indah seperti air pirus di sekeliling mereka. Sebagai kelompok minoritas tanpa kewarganegaraan, mereka sering menghadapi diskriminasi.

  • Status Legal: Banyak dari mereka tidak memiliki dokumen resmi, sehingga berisiko terkena denda atau dipenjara saat menjual hasil tangkapan di pasar kota seperti Semporna.
  • Kebijakan Pemerintah: Pemerintah sering berupaya untuk memindahkan mereka ke daratan demi memantau keamanan dan mencegah pembajakan laut.
  • Ancaman Ekosistem: Perusahaan penangkapan ikan komersial besar mulai merambah wilayah mereka, merusak terumbu karang yang menjadi sumber kehidupan utama Suku Bajau.

Adam Docker mencatat kekhawatirannya: "Keberhasilan mereka adalah kesederhanaan mereka... Tidak akan lama lagi wilayah ini mungkin akan menjadi perangkap turis (tourist trap). Mari berharap hal itu tidak terjadi. Tidak ada yang lebih berharga daripada mengunjungi suku yang masih murni."


Penutup

Suku Bajau adalah pengingat bagi kita tentang betapa luar biasanya manusia dapat beradaptasi dengan tempat-tempat yang paling tidak terduga di Bumi. Mereka adalah penjaga terakhir dari "Amazon Lautan" yang keberadaannya kini terhimpit oleh kemajuan zaman. Melihat mereka adalah melihat kembali ke masa lalu, di mana manusia hidup selaras dengan alam dalam kesederhanaan yang murni.


Daftar Pustaka & Referensi

  • Docker, A. (2025). Photographic Journey: The Bajau Sea Gypsies of Borneo. UK Channel 5 Documentary Archive.
  • Ilardo, M. A., et al. (2018). Physiological Adaptations to Free-diving in the Bajau. Journal of Cell.
  • Kamarudin, Y. (2026). The Plight of the Nomads: Sea Gypsies in the Coral Triangle. Environmental Graffiti Research.
  • World Wildlife Fund (WWF). (2025). Coral Triangle: The Most Diverse Marine Region on Earth.
  • National Geographic. The Sea Gypsies of Malaysia: A Culture Under Threat.