May 2026 - Picture of Our World

Nature│Outdoor│Travel│Art and Design│History│Science│Environmental│Technology│Nature | Trivia

Saturday, 2 May 2026

Kisah Mumi Ramses II: Firaun Berpaspor yang Terbang ke Prancis Demi Kesembuhan Abadi

May 02, 2026 0

Mumi Firaun Ramses II yang diawetkan dengan sangat baik, menunjukkan profil wajah sang raja legendaris
Terakhir Diperbarui 3 Februari 2026 | Waktu baca: 11 menit


Sejarah dunia dipenuhi dengan kisah-kisah raja yang menaklukkan negeri asing, membangun monumen raksasa, dan memerintah selama puluhan tahun. Namun, sangat sedikit raja yang melakukan perjalanan kenegaraan melintasi benua ribuan tahun setelah kematian mereka. Inilah kisah luar biasa tentang Ramses II, Firaun agung dari Dinasti ke-19 Mesir, yang pada tahun 1974 harus "memperbarui" dokumen perjalanannya demi sebuah misi penyelamatan medis di Paris.

Bagi banyak orang, ide mumi yang memiliki paspor terdengar seperti plot film komedi. Namun, bagi pemerintah Mesir dan ilmuwan internasional, ini adalah prosedur serius yang melibatkan hukum internasional, etika konservasi, dan protokol diplomatik tingkat tinggi.

Ramses Sang Agung: Penguasa yang Tak Tergantikan

Sebelum membahas tentang paspornya, kita perlu memahami siapa itu Ramses II. Ia memerintah Mesir selama sekitar 66 tahun (1279–1213 SM). Selama masa pemerintahannya yang panjang, ia membangun lebih banyak kuil dan monumen—seperti Abu Simbel—serta memiliki lebih banyak anak (diperkirakan lebih dari 100 anak) dibandingkan Firaun lainnya.

Ia adalah simbol kejayaan militer Mesir pasca Pertempuran Kadesh. Namun, musuh terbesarnya ternyata bukan bangsa Het di medan perang, melainkan waktu dan mikroorganisme yang menyerang tubuhnya yang sudah berusia lebih dari 3.000 tahun.

Krisis di Museum Kairo: Ancaman Jamur

Pada awal 1970-an, para kurator di Museum Mesir di Kairo menyadari sesuatu yang mengerikan. Kondisi fisik mumi Ramses II mulai menurun secara drastis. Tubuh sang raja mulai membusuk secara perlahan karena serangan jamur dan bakteri. Perubahan kelembapan dan paparan lingkungan modern di museum ternyata menjadi ancaman serius bagi pengawetan mumi tersebut.

Setelah melalui diskusi panjang, pemerintah Mesir sepakat bahwa mumi tersebut perlu dibawa ke Prancis untuk menjalani pemeriksaan mendalam dan restorasi menggunakan teknologi paling mutakhir saat itu. Namun, sebuah hambatan birokrasi muncul: Hukum Prancis mewajibkan setiap orang, baik hidup maupun mati, untuk memiliki dokumen perjalanan resmi agar bisa masuk ke wilayah mereka.

Paspor Firaun: "Occupation: King (Deceased)"

Untuk menghindari komplikasi hukum dan memastikan mumi tersebut diperlakukan dengan kedaulatan penuh, pemerintah Mesir secara resmi menerbitkan paspor bagi Ramses II. Ini menjadikannya sebagai mumi pertama—dan mungkin satu-satunya—dalam sejarah yang memiliki paspor resmi dari sebuah negara berdaulat.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa di kolom pekerjaan (occupation), otoritas Mesir menuliskan: "King (Deceased)" atau Raja (Telah Meninggal). Langkah ini bukan sekadar lelucon birokrasi, melainkan strategi hukum untuk memastikan bahwa jika mumi tersebut dicuri atau mengalami masalah di luar negeri, ia akan mendapatkan perlindungan diplomatik layaknya warga negara Mesir yang sah.

Kedatangan di Paris: Sambutan Militer untuk Sang Raja

Mumi Ramses II tiba di Bandara Le Bourget, Paris, pada 26 September 1976. Apa yang terjadi saat pintu pesawat terbuka adalah momen yang mengharukan sekaligus luar biasa. Mumi tersebut tidak diturunkan sebagai kargo biasa, melainkan disambut dengan upacara militer penuh.

Sesuai protokol Prancis, setiap kepala negara (baik yang masih berkuasa maupun yang sudah lama tiada) yang mengunjungi Prancis harus disambut dengan penghormatan militer. Pasukan kehormatan berdiri tegak, musik dimainkan, dan para pejabat tinggi Prancis membungkuk hormat saat peti sang Firaun diturunkan. Ini adalah pengakuan dunia modern terhadap pengaruh besar yang ditinggalkan Ramses II bagi peradaban manusia.


Investigasi Sains: 89 Jenis Jamur dan Rahasia Tembakau

Sesampainya di laboratorium khusus yang disiapkan oleh Museum Manusia (Musée de l'Homme) di Paris, tim yang terdiri dari 102 spesialis mulai bekerja. Hasil analisisnya sangat mengejutkan:

  • Infeksi Jamur: Ilmuwan menemukan setidaknya 89 jenis jamur yang berbeda menyerang mumi tersebut. Untuk membasminya tanpa merusak jaringan kuno, mumi Ramses II harus disinari dengan sinar gamma dalam dosis yang sangat presisi.
  • Analisis Serat: Para peneliti menemukan adanya sisa-sisa daun tembakau di dalam rongga tubuh mumi. Hal ini memicu kontroversi hebat di dunia arkeologi, karena tembakau diyakini berasal dari Amerika dan baru dikenal di dunia lama setelah pelayaran Columbus pada 1492. Apakah bangsa Mesir kuno sudah memiliki jalur perdagangan ke Amerika? Hingga kini, perdebatan ini masih menjadi salah satu misteri arkeologi yang paling menarik.
  • Profil Fisik: Analisis rontgen menunjukkan bahwa Ramses II memiliki hidung yang mancung (akuilin), menderita artritis yang parah di masa tuanya, dan memiliki sirkulasi darah yang buruk. Rambutnya yang kemerahan juga dikonfirmasi sebagai warna asli, berkat penggunaan pewarna alami seperti henna yang diaplikasikan selama proses mumifikasi.


Ringkasan Fakta Perjalanan Ramses II

Detail OperasiInformasi
Tahun Perjalanan1976
TujuanParis, Prancis
Misi UtamaRestorasi dan pembasmian jamur (Daedalea biennis)
DokumenPaspor resmi Republik Arab Mesir
Durasi PerawatanSekitar 7 bulan
HasilKondisi stabil dan dikembalikan ke Kairo pada 1977

Kesimpulan: Penghormatan melintasi Milenium

Kisah mumi Ramses II berpaspor ini mengajarkan kita tentang bagaimana sains dan hukum dapat digunakan untuk melindungi warisan sejarah. Paspor tersebut bukan hanya selembar kertas, melainkan pengakuan bahwa identitas seorang manusia tidak berakhir saat napasnya berhenti.

Ramses II kembali ke Mesir pada Mei 1977 dengan kondisi yang jauh lebih stabil. Hingga hari ini, ia beristirahat di Museum Nasional Peradaban Mesir di Fustat, Kairo. Perjalanannya ke Paris tetap menjadi salah satu bab paling unik dalam sejarah hubungan internasional, di mana birokrasi modern harus "tunduk" dan menyesuaikan diri untuk menyelamatkan sang penguasa dari masa lalu yang agung.

Bagi kita, ini adalah pengingat bahwa kita hanyalah penjaga sementara dari benda-benda bersejarah ini. Jika seorang raja yang telah meninggal 3.000 tahun lalu harus membuat paspor untuk mendapatkan "kesembuhan", itu menunjukkan betapa rapuhnya kita di hadapan waktu, sekaligus betapa gigihnya kita dalam menjaga ingatan tentang masa lalu.


Daftar Pustaka & Referensi

  1. Bucaille, Maurice. (1990). Mummies of the Pharaohs: Modern Medical Investigations. St. Martin's Press.
  2. National Geographic. The Pharaoh's Passport: Why Ramses II needed travel documents. [Official Archive].
  3. Lichtenberg, R., & Thomas, A. P. (2000). The Mummies of the Pharaohs. Harry N. Abrams.
  4. The New York Times. (1976). Ramses II Goes to Paris for 'Checkup'. [Digital Archive].
  5. Smithsonian Magazine. The Science and Mystery of the Tobacco in Ramses II's Mummy.