
Terakhir Diperbarui 3 Februari 2026 | Waktu baca: 10 menit
Jika kita berbicara tentang sepatu hak tinggi atau high heels hari ini, bayangan yang muncul di kepala kita biasanya adalah model yang berlenggak-lenggok di atas catwalk, eksekutif wanita di gedung pencakar langit, atau pengantin dengan gaun megah. Hak tinggi telah menjadi simbol feminitas, keanggunan, dan terkadang, penderitaan demi estetika.
Namun, sejarah memiliki cara unik untuk menertawakan persepsi modern kita. Jika Anda bisa melakukan perjalanan waktu ke abad ke-10 di Persia (sekarang Iran), Anda tidak akan menemukan wanita yang memakai hak tinggi. Sebaliknya, Anda akan melihat barisan prajurit pria yang garang, menunggang kuda dengan sepatu yang memiliki hak setinggi satu inci atau lebih.
Bagaimana mungkin benda yang kini dianggap sangat feminin ini dulunya adalah perlengkapan militer yang maskulin? Mari kita telusuri perjalanannya yang luar biasa.
1. Persia: Fungsi di Atas Estetika
Asal-usul sepatu hak tinggi tidak ada hubungannya dengan tinggi badan atau gaya berjalan. Semuanya bermula dari kebutuhan militer. Prajurit berkuda Persia adalah salah satu kavaleri paling hebat di dunia pada masanya. Saat mereka bertempur, mereka perlu berdiri di atas sanggurdi (stirrups) kuda untuk menarik busur panah dengan stabil.
Tanpa hak pada sepatu, kaki mereka akan mudah tergelincir dari sanggurdi. Hak sepatu berfungsi sebagai pengait yang mengunci posisi kaki, memberikan keseimbangan yang diperlukan prajurit untuk membidik musuh sambil memacu kuda dalam kecepatan tinggi. Jadi, pada awalnya, high heels adalah alat bantu teknis yang setara dengan helm atau pelindung dada bagi seorang tentara.
2. Kedatangan ke Eropa: Simbol Maskulinitas Eksotis
Lalu, bagaimana gaya ini sampai ke Barat? Pada akhir abad ke-16, penguasa Persia, Shah Abbas I, memiliki delegasi diplomatik terbesar yang pernah dikirim ke Eropa untuk mencari aliansi melawan Kekaisaran Ottoman.
Ketika para delegasi ini tiba di istana-istana Eropa mengenakan sepatu hak tinggi yang berwarna-warni, para aristokrat Eropa langsung terpikat. Bagi mereka, sepatu ini terlihat eksotis, gagah, dan mencerminkan kekuatan militer Timur yang misterius. Para pria bangsawan Eropa segera mengadopsi gaya ini bukan karena mereka sering menunggang kuda ke medan perang, tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki status sosial yang cukup tinggi untuk memiliki kuda (dan bergaya seperti penunggang kuda).
3. Louis XIV dan Revolusi Hak Merah
Jika ada satu pria yang harus "disalahkan" atas popularitas high heels di Eropa, dia adalah Raja Louis XIV dari Prancis. Sang Raja Matahari ini memiliki masalah yang cukup umum bagi banyak pria: dia merasa dirinya kurang tinggi (hanya sekitar 163 cm).
Untuk mengompensasi tinggi badannya, Louis XIV mulai memakai sepatu dengan hak yang sangat tinggi, terkadang mencapai 10 sentimeter atau lebih. Tidak hanya tinggi, ia juga memerintahkan agar hak sepatunya diwarnai merah—warna yang sangat mahal dan sulit didapat saat itu.
Inilah cikal bakal "talons rouges" atau hak merah yang menjadi simbol kekuasaan. Louis XIV bahkan mengeluarkan dekrit yang melarang siapa pun di istananya memakai sepatu hak merah kecuali mereka adalah bagian dari lingkaran dalamnya. Pada titik ini, high heels sepenuhnya menjadi simbol status, kekuasaan pria, dan hak istimewa aristokrasi.
4. Ketika Wanita Mulai "Mencuri" Gaya Pria
Pada pertengahan abad ke-17, muncul tren unik di kalangan wanita Eropa yang disebut sebagai "maskulinisasi" gaya. Wanita mulai mengadopsi elemen-elemen dari pakaian pria: mereka memotong rambut pendek, memakai topi bergaya militer, mengisap pipa, dan tentu saja—memakai sepatu hak tinggi.
Awalnya, wanita memakai hak tinggi untuk menunjukkan bahwa mereka setara dengan pria secara intelektual dan status. Namun, ada perbedaan kecil dalam desainnya. Hak sepatu pria cenderung tetap tebal dan kokoh, sementara hak sepatu wanita mulai didesain lebih ramping dan meruncing untuk menonjolkan bentuk kaki yang lebih kecil, yang dianggap lebih cantik pada masa itu.
5. Pencerahan dan "The Great Male Renunciation"
Segalanya berubah ketika era Pencerahan (The Enlightenment) tiba di abad ke-18. Filosofi mulai beralih pada rasionalitas dan fungsi. Pria mulai meninggalkan pakaian yang dianggap "sembrono" atau sekadar hiasan. Inilah era yang disebut para sejarawan mode sebagai The Great Male Renunciation (Pengabaian Besar Pria).
Pria mulai memakai pakaian yang lebih praktis: setelan berwarna gelap, celana panjang, dan sepatu datar. Hak tinggi dianggap sebagai sesuatu yang tidak logis, emosional, dan "feminin". Di sisi lain, wanita tetap mempertahankan hak tinggi karena pada masa itu wanita dianggap sebagai makhluk yang lebih mengandalkan emosi dan estetika daripada logika murni (sebuah stereotip yang sayangnya bertahan lama). Sejak saat itu, garis pemisah gender pada sepatu hak tinggi menjadi sangat tegas.
6. Abad ke-20 dan Penemuan Stiletto
Setelah Revolusi Prancis, sepatu hak tinggi sempat menghilang sejenak karena dianggap terlalu aristokrat. Namun, ia kembali populer melalui dunia fotografi erotis dan seni pin-up di awal abad ke-20.
Barulah pada tahun 1950-an, setelah berakhirnya Perang Dunia II, teknologi memungkinkan terciptanya hak tinggi yang sangat tipis namun kuat menggunakan batang baja kecil di dalamnya. Inilah kelahiran Stiletto. Dinamakan berdasarkan jenis belati yang tipis dan tajam, stiletto mengubah sepatu dari alat bantu berkuda menjadi simbol daya tarik seksual wanita yang provokatif.
7. Masa Kini: Kembalinya Pria ke Akar?
Menariknya, di tahun 2026 ini, kita melihat pergeseran kembali. Dalam panggung mode dunia dan budaya populer, semakin banyak pria yang mulai bereksperimen kembali dengan heeled boots atau sepatu berhak tinggi. Dari bintang pop hingga model kelas atas, pria mulai merebut kembali sejarah mereka sendiri, membuktikan bahwa mode memang selalu berputar.
Kesimpulan: Fashion Adalah Cermin Sejarah
Kisah high heels mengajarkan kita bahwa makna sebuah benda bisa berubah 180 derajat seiring berjalannya waktu. Apa yang dulunya adalah perlengkapan perang yang berdarah-darah, kini menjadi pelengkap gaun malam di karpet merah.
Fashion bukan hanya soal baju atau sepatu; ia adalah cermin dari perubahan kekuasaan, status sosial, dan persepsi gender. Jadi, lain kali jika Anda melihat sepasang stiletto di etalase toko, ingatlah bahwa jauh sebelum ia menjadi simbol kecantikan, ia adalah sahabat setia seorang prajurit di tengah debu medan perang.
Daftar Pustaka & Referensi
- Semmelhack, Elizabeth. (2011). Heights of Fashion: A History of the Elevated Shoe. Periscope Publishing.
- Bata Shoe Museum. Standing Tall: The Curious History of Men in Heels. [Official Exhibition Archive].
- National Geographic. The Surprising History of High Heels. [Online Reference].
- The Guardian. Why did men stop wearing high heels? [Fashion History Column].
- Museum of Applied Arts & Sciences. Louis XIV and the Symbolism of the Red Heel.
No comments:
Post a Comment
Hai, silakan tuliskan apapun terkait isi artikelnya ya. Terima kasih.