Misteri The Hum: Fenomena Suara Berdengung Global yang Hanya Didengar 2 Persen Populasi Dunia - Picture of Our World

Nature│Outdoor│Travel│Art and Design│History│Science│Environmental│Technology│Nature | Trivia

24/10/26

Misteri The Hum: Fenomena Suara Berdengung Global yang Hanya Didengar 2 Persen Populasi Dunia

Ilustrasi gelombang suara frekuensi rendah yang menyelimuti pemukiman di malam hari.

Terakhir Diperbarui 7 Mei 2026 | Waktu baca 11 menit


Bayangkan Anda sedang beristirahat di rumah yang tenang pada tengah malam. Tiba-tiba, telinga Anda menangkap suara dengungan rendah yang konstan, mirip dengan suara mesin diesel yang menyala di kejauhan atau getaran trafo listrik yang tak kunjung padam. Anda memeriksa seluruh alat elektronik, mematikan sakelar utama, namun suara itu tetap ada—menggetarkan gendang telinga dan bahkan terasa hingga ke tulang dada.

Inilah yang dialami oleh sekitar 2 persen populasi dunia. Fenomena ini dikenal dengan nama The Hum. Selama lebih dari 50 tahun, suara misterius ini telah dilaporkan di berbagai penjuru dunia, mulai dari Inggris, Amerika Serikat, hingga Selandia Baru. Meski terdengar nyata bagi mereka yang mengalaminya, suara ini sering kali tidak tertangkap oleh mikrofon standar, menciptakan perdebatan panjang: apakah ini fenomena fisik, geologis, atau sekadar gangguan psikologis?

1. Sejarah dan Lokasi Paling Terkenal

Fenomena The Hum mulai mendapat perhatian luas pada tahun 1970-an. Salah satu kasus paling awal dan paling terdokumentasi dengan baik adalah Bristol Hum di Inggris. Pada tahun 1977, surat kabar setempat dibanjiri laporan dari ribuan penduduk yang mengeluhkan suara dengungan yang menyebabkan sakit kepala, insomnia, dan mimisan.

Lokasi ikonik lainnya adalah Taos Hum di New Mexico, Amerika Serikat. Pada tahun 1990-an, penduduk kota Taos begitu terganggu oleh suara ini hingga mereka mendesak Kongres AS untuk melakukan penyelidikan resmi. Meskipun tim ilmuwan dari laboratorium nasional dikerahkan, mereka gagal mengidentifikasi satu pun sumber tunggal yang pasti.

Di Kanada, terdapat Windsor Hum yang sangat mengganggu hingga pemerintah setempat harus melakukan studi akustik selama bertahun-tahun. Pola yang sama terulang di Auckland (Selandia Baru), Kokomo (Indiana), dan banyak kota lainnya. Meskipun tersebar secara global, karakteristik suaranya hampir selalu sama: dengungan frekuensi rendah antara 30 hingga 80 Hertz.

2. Karakteristik: Siapa yang Mendengarnya?

Salah satu aspek paling membingungkan dari The Hum adalah tidak semua orang bisa mendengarnya. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 2 persen orang di area terdampak yang bisa menangkap suara ini. Mayoritas "pendengar" (sering disebut sebagai Hearers) berusia antara 30 hingga 60 tahun.

Para peneliti mencatat beberapa kesamaan unik dari laporan para Hearers:

  • Lebih Keras di Dalam Ruangan: Suara ini justru terdengar lebih intens di dalam rumah daripada di luar ruangan. Hal ini diduga karena dinding bangunan justru bertindak sebagai penguat bagi gelombang suara frekuensi rendah (resonansi).
  • Lebih Terasa di Malam Hari: Karena tingkat kebisingan lingkungan menurun di malam hari, dengungan ini menjadi sangat dominan dan mengganggu waktu tidur.
  • Efek Fisik: Selain suara, banyak pendengar melaporkan adanya sensasi getaran di tubuh, pusing, hingga mual.

3. Teori Ilmiah: Mengapa Bumi Berdengung?

Selama puluhan tahun, para ilmuwan telah mengajukan berbagai teori untuk menjelaskan asal-usul The Hum. Meskipun tidak ada satu jawaban tunggal yang berlaku untuk semua lokasi, beberapa penjelasan paling masuk akal meliputi:

A. Aktivitas Industri dan Infrastruktur Pada kasus Windsor Hum di Kanada, penyelidikan akhirnya menemukan sumbernya: aktivitas tungku pemanas raksasa di sebuah pabrik baja di Pulau Zug. Suara frekuensi rendah bisa merambat puluhan kilometer melalui tanah dan udara tanpa kehilangan banyak energi. Pipa gas bawah tanah, menara telekomunikasi, dan gardu listrik juga sering menjadi tersangka utama.

B. Mikro-seismik Lautan Teori geologi menyebutkan bahwa gelombang laut yang menghantam dasar samudra menciptakan getaran mikro-seismik yang merambat melalui kerak bumi. Getaran ini konstan dan memiliki frekuensi yang sangat rendah. Para ilmuwan dari French National Centre for Scientific Research menemukan bahwa aktivitas laut ini memang menghasilkan "nyanyian" bumi yang terus-menerus, namun biasanya terlalu rendah untuk didengar manusia kecuali bagi mereka yang sangat sensitif.

C. Emisi Otoakustik Spontan (SOAE) Dari sisi biologis, beberapa ahli berpendapat bahwa The Hum bukanlah suara dari luar, melainkan fenomena di dalam telinga manusia. Berbeda dengan tinitus (telinga berdenging), SOAE adalah kondisi di mana sel-sel rambut di telinga dalam justru menghasilkan suara mereka sendiri. Namun, teori ini sulit menjelaskan mengapa laporan The Hum sering kali terkonsentrasi di wilayah geografis tertentu secara bersamaan.

D. Komunikasi Militer dan VLF Teori konspirasi sering menghubungkan The Hum dengan pemancar frekuensi sangat rendah (VLF) yang digunakan militer untuk berkomunikasi dengan kapal selam di kedalaman samudra. Gelombang ini memang dirancang untuk menembus material padat, namun bukti konkret keterkaitannya dengan laporan warga sipil masih sangat minim.

4. Dampak Psikologis dan Kesehatan

Bagi mereka yang tidak mendengarnya, The Hum mungkin terdengar seperti masalah sepele. Namun bagi para Hearers, ini adalah mimpi buruk yang nyata. Insomnia kronis adalah dampak yang paling umum, yang kemudian memicu kecemasan parah, depresi, dan hilangnya produktivitas.

Beberapa orang bahkan harus pindah rumah atau melakukan isolasi suara pada kamar tidur mereka dengan biaya besar, hanya untuk menemukan bahwa suara tersebut tetap "mengikuti" mereka karena getarannya merambat melalui struktur bangunan. Rasa frustrasi karena tidak dipercaya oleh orang sekitar atau otoritas sering kali memperburuk kondisi mental para pendengar.

5. Menuju Titik Terang: Database Global

Saat ini, upaya untuk memetakan fenomena ini dilakukan melalui proyek-proyek seperti The World Hum Map and Database yang diprakarsai oleh Dr. Glen MacPherson. Dengan mengumpulkan data dari ribuan orang di seluruh dunia, para peneliti berharap dapat menemukan pola cuaca, geologi, atau aktivitas manusia yang berkorelasi dengan munculnya suara tersebut.

Penelitian modern cenderung menyimpulkan bahwa The Hum bukanlah satu fenomena tunggal, melainkan gabungan dari berbagai sumber suara frekuensi rendah yang berbeda-beda di tiap lokasi, yang hanya mampu ditangkap oleh sistem pendengaran manusia yang memiliki sensitivitas di atas rata-rata.

Kesimpulan

The Hum tetap menjadi salah satu anomali akustik paling menantang di dunia modern kita yang bising. Ia menjadi pengingat bahwa panca indra manusia memiliki batasan, dan bahwa planet kita—serta teknologi yang kita bangun di atasnya—menghasilkan simfoni suara yang tidak selalu bisa kita pahami sepenuhnya. Bagi 2 persen populasi, dunia tidak pernah benar-benar sunyi. Mereka adalah saksi hidup dari sebuah misteri yang masih menanti untuk dipecahkan sepenuhnya oleh ilmu pengetahuan.


Daftar Pustaka / Referensi

  • Deming, D. (2004). The Hum: An Anomalous Sound Heard Around the World. Journal of Scientific Exploration.
  • MacPherson, G. (2025). The World Hum Map and Database Project. (Online Archive).
  • Mullins, J. (2001). The Bristol Hum. BBC News Science & Nature.
  • National Research Council Canada (2014). Summary Report on the Windsor Hum Study.
  • Ardhuin, F., et al. (2015). Ocean waves and the "hum" of the Earth. Geophysical Research Letters.
  • Leventhall, H. G. (2003). A Review of Published Research on Low Frequency Noise and its Effects. DEFRA Publications.
  • The Guardian (2021). The ‘Hum’ is back: why can some people hear a noise that others can’t?

No comments:

Post a Comment

Hai, silakan tuliskan apapun terkait isi artikelnya ya. Terima kasih.